Senin, 28 Mei 2012

Tentang Rasa

Hmmmmm...
Kuakui aku mengagumimu setulus hati. Pernah berharap lebih atasmu. Bahkan aku mau mengabaikan prinsip jika suatu saat aku bersamamu sebelum waktu yang kutetapkan dalam prinsipku.

Sepertinya aku melupakan suatu "gift" dari Tuhan. Aku terlalu berharap hingga akhirnya kusadari semua tak begitu. Kulihat bahwa aku kembali pada 4 atau 5 tahun yang lalu, saat aku untuk pertama kalinya mengagumi seseorang hingga 3 tahun. Suatu hal yang sia-sia.

Entah kenapa tiba-tiba rasa itu kini hilang. Malah aku merasa tak ingin bertemu atau melihatmu lagi. Ya, sepertinya penyakitku kumat. Mungkin aku mulai membencimu!

Aku cukup kecewa atas sikapmu yang memperlakukanku sedingin itu. DISKRIMINASI SOSIAL! Ya,, kau boleh menganggapku tak ada, mungkin aku cuma sampah di matamu, tapi maaf, aku berlian bagi orang lain, setidaknya bagi orang tua atau pun orang yang menyayangiku (meski aku tak tau siapa).

Sedikit nasihat, bukan menggurui. Tapi jika memang kau punya rasa terhadap seseorang, maka jangan siksa orang itu hanya karena kau tak mampu mengendalikan rasamu. Seharusnya rasamu mampu menciptakan kebahagian di hidupnya, jika kau memang tulus.



Debu

Senin, 28 Mei 2012

Sorenya aku menghadiri suatu pertemuan yang membahas mengenai "Ekstensi Fair", suatu event besar yang diselenggarakan ekstensi ekonomi. Pembicaraan lebih menitikberatkan pada dasar dan konsep acara tersebut. Banyak hal yang bisa kudapat dari itu. Itu artinya kreatifitas sangat dibutuhkan di acara ini.

Yang ingin ku bagi bukanlah mengenai acara tersebut, melainkan suatu pelajaran yang kuambil saat perjalanan pulang.

Seperti biasa, aku mengendarai "My Lovely Xeon". Saat itu hari semakin senja dan adzan magrib berkumandang. Seketika lewat suatu benda di depan lampu motorku, sehingga benda itu berwarna menyala seperti terbakar akibat pantulan yang kuat dari lampu motor. Sedikit kaget, ternyata ku sadari benda itu hanya sejenis debu atau pasir yang bertebaran di jalan dan tertiup angin melewati lampu motorku.

Otak ku mulai mencerna peristiwa itu. Dan benar saja, peristiwa itu tak sia-sia. Hal yang terfikirkan oleh ku adalah sebutir debu jalanan yang terkena pantulan kuat dari lampu mampu membuatnya tampak bercahaya seperti berapi.

Logikanya, seseorang yang tidak punya kekuatan mampu terlihat begitu kuat dan mengancam saat didorong oleh kekuatan yang begitu besar. Tapi debu tetaplah debu. Ia hanya 'terlihat' seperti bercahaya dan berapi. Begitu ia tak berada di depan cahaya, maka ia kembali ke tampilannya sebagai sebutir debu. Begitu juga seseorang yang bisa tampil penuh kekuatan dan ancaman hanya karena memantulkan (mengandalkan) kekuatan besar milik orang lain. Semu. Kekuatan itu bukan miliknya, tak abadi.

Jadilah kuat dengan kemampuan dan potensimu! Jadikan kekuatan itu milikmu seutuhnya!

Sabtu, 26 Mei 2012

Yang Tak Tertahan


Ya, aku cukup emosi kali ini.

Aku harap kau segera menghilang di hidupku. Tolong pergi dan jgn kembali. Aku juga tak mau terlibat masalah yg berhubungan denganmu. Aku tak tau sama sekali, jadi tolong jgn libatkan aku. Tolong pikirkan semua yg kau lakukan, karena itu imbasnya ke aku. Tolong hargai posisiku. Kau masa laluku, masa kelamku. Jangan rusak reputasiku dengan sikapmu yang buruk. Cukup sabar kuhadapi dirimu selama ini. Jangan biarkan aku menyimpan dendam terhadapmu. Aku berusaha memaafkanmu meski tak kau minta. Aku mohon dengan sangat, jgn rusak hidup dan kehidupanku. Pergilah! Jangan meninggalkan jejak! Aku mohon dengan sangat, jangan bunuh aku secara perlahan!!!!

Secuil Memory

Sebelumnya, mari kita tertawa dulu...
hahahahahaahahahahahhahahaahhaah ^_^
Biar rilex and enjoy, sekalian mari kita buka kenangan masa lalu saat kegilaan menghampiri diri kita..

Sebagai seorang anak yang "gila", aku senang mencoba hal baru. Tentu saja keingintahuan itu harus dibatasi. Tapi hari ini kuceritakan secuil memory yang kuingat disela-sela masa liburku.

  1. Kejadian pertama adalah saat aku berada di kelas VIII, tepatnya kelas VIII.F. Partnerku adalah Didi. Di provinsiku ada peraturan yang mewajibkan siswa SD hingga SMA menggunakan pakaian muslim ke sekolah. Nah, Didi ini aslinya ga berjilbab, jadi ia menggunakan jilbab hanya untuk urusan sekolah. Pada suatu hari di tengah jam pelajaran, jilbab Didi mulai berantakan dan ia risih karena itu. Melihatnya gelisah mengurusi jilbabnya yang makin berantakan, aku menyarankannya untuk keluar dan memperbaiki jilbabnya. Saranku diterima dengan syarat aku menemaninya ke toilet untuk membantunya memperbaiki jilbabnya. Berdasarkan pengalamanku yang setiap pagi memakai jilbab dengan waktu singkat, maka kusanggupi permintaannya. Dengan sedikit strategi agar bisa keluar kelas, akhirnya kami pun menuju toilet. Sesampainya di sana, Didi langsung melepas jilbabnya dan membetulkan alasnya. Tapi diluar dugaanku, ternyata jilbabnya cukup "bandel" sehingga waktu bergulir sekian lama namun jilbab itu tak kunjung terpasang dengan rapi. Dengan gelisah ku katakan padanya agar membiarkan saja jilbabnya yang tak rapi dan kembali ke kelas, sebab sudah terlalu lama kami keluar kelas. Namun ia beralasan sudah kepalang tanggung dan sebentar lagi jilbabnya pasti rapi. Akhirnya selesai juga ia merapikan jilbabnya, tapi sayang kami sudah berada terlalu lama di toilet dan jam pelajaran segera berakhir. Alhasil kami memutuskan untuk tetap menunggu di toilet hingga jam pelajaran usai. Bel pun berbunyi dan dengan lega kami kembali ke kelas yang disambut histeris teman-teman dekatku yang kegelian mendengar cerita kami.
  2. Kenangan kedua adalah saat aku duduk di kelas X (X.3). Karena sekolahku dalam proses pembangunan, sehingga siswa kelas X harus masuk siang. Hari itu hari Selasa dan jam pelajaran pertama adalah English dengan Mam Rahmawati. Entah kenapa pada hari itu aku terlambat datang. Saat menuruni angkutan kota kulihat di sekitar sekolah sudah sepi, yang menandakan aku sangat terlambat. Aku khawatir karena sudah pasti aku dihukum berbaris untuk mengangkat pasir hingga ke lantai 3. Hampir saja kuputuskan untuk kembali pulang, tapi ternyata ada angkot yang berhenti di dekatku dan turunlah Kaka, teman sebangku ku. Aku lega akhirnya aku punya teman terlambat yang juga merupakan teman dekatku. Dengan sebelah tangan memegang HPnya dan sebelah lagi memegang lenganku, dia mengajakku ke salah satu restoran fastfood yang sering kami kunjungi. Katanya teman-teman sekelasku yang perempuan ada di sana. Dengan kaget aku bertanya kenapa mereka semua di sana. Ia bilang mereka ingin membolos di jam English dan akan kembali setelah English berakhir. Agar selamat dari hukuman, kuterima tawarannya, toh kalau pun ketahuan aku ga sendirian kan. Sesampainya di sana ku lihat mereka menikmati ice cream. Aku dan Kaka juga langsung memesan makanan. Bagai tak punya perasaan bersalah, kami juga berfoto dengan riangnya. Setelah dirasa cukup, akhirnya kami kembali ke sekolah karena kami sudah memprediksi waktu jam pelajaran habis. Aku yang polos dan tak tahu apa-apa hanya mengikuti mereka mengendap-endap masuk ke sekolah dengan menutupi tas agar tak menimbulkan kecurigaan. Akhirnya sampailah kami di pintu kelas. Mendengar suara ribut dari kelas, kami pun yakin Mam Rahma sudah keluar dan jam pelajaran telah berakhir. Kami masuk dengan santainya. Tiba-tiba bel pergantian pelajaran berbunyi, sontak kami kaget. Apalagi ku temui masih ada Mam Rahma di kelas. Dengan wajah tegang kami tetap berjalan ke kursi masing-masing dan menghiraukan Mam yang bertanya, "dari mana saja kalian?". Ku dengar dari teman-temanku bahwa kelas begitu sepi, yang ada hanya siswa laki-laki dan beberapa perempuan. Maafkan ulah kami Mam Rahma, I love you so much...
  3. Sekolah ku sering mengadakan pertandingan basket antar SMA se kota. Kami diberi tugas membuat laporan selama pertandingan hingga acara itu selesai. Itulah tugas pengganti, karena selama kegiatan itu berlangsung, kami tidak dapat melaksanakan pelajaran olahraga. Dengan senang hati kusambut tugas itu, karena aku punya minat yang besar di bidang menulis. Yang ada di pikiranku saat itu adalah aku akan berlagak seperti seorang jurnalis dan mewawancarai para pemain dari berbagai sekolah. Kelompok kerja sudah dibagi dan di hari pertandingan aku mulai beraksi seperti jurnalis dengan mengumpulkan informasi tentang para pemain, teknik yang digunakan, hingga posisi para pemain. Hahahhaha,, kepo juga ternyata... Laporan itu telah kuselesaikan, tapi karena ada suatu masalah akhirnya aku terlambat mengumpulkannya. Akhirnya salah satu temanku berinisiatif untuk memasukkan laporan itu ke dalam perpustakaan bagaimana pun caranya, karena memang kami diperintahkan meletakkan laporan itu di perpus. Di karenakan pada hari itu sekolah mengadakan sebuah acara, perpus pun tutup. Kami mengelilingi perpus mencari celah untuk bisa memasukkan laporan itu. Tak ada celah. Satu-satunya cara adalah memasukkan laporan itu dari ventilasi yang cukup tinggi. Kebetulan temanku ini cukup tinggi sehingga aku menaruh harapan padanya. Kami mencari kursi untuk mempermudahnya memanjat, tapi ternyata belum sampai juga. Dengan stres beercampur emosi dia lalu melompat-lompat di atas kursi yang diikuti teriakan histerisku. Dengan semangat dan teriakannya akhirnya ia melempar laporan itu ke dalam. huft,, syukurlah laporannya sudah masuk. Sayangnya, saat beberapa hari kemudian mengecek ke dalam perpus, ternyata laporan kami tidak ketemu. Tapi tetap saja kami laporkan pada Guru bahwa laporannya sudah kami masukkan ke dalam perpus, karena memang laporannya telah kami masukkan walaupun dengan cara yang tak lazim...

Jumat, 25 Mei 2012

Bayanganmu Itu Aku

Bukankah aku hanya bayangan yang posisinya tergantung keberadaan cahaya?
Selalu berada di bawah dan samar
Tapi ternyata hari semakin gelap
Bayanganmu (aku) semakin memudar dan akhirnya hilang


Senin, 21 Mei 2012

Keegoisan Rasa

Cukup gerah aku melihat sikapnya. Dari awal aku tak punya masalah dengannya, tapi caranya terhadap wanita membuatku eneg.

Sebelumnya aku minta maaf. Tapi ini hanya kujadikan pelajaran.

Dari berbagai kisah yang kulewati dan kuketahui, kuambil kesimpulan, bahwa lakukanlah sesuatu sepenuh hati. Jika kau ingin menjalin hubungan dengan seseorang, maka lakukanlah sepenuh hati. Tetapkan hatimu untuknya. Jika perasaanmu untuknya hanya setengah, sedangkan setengahnya lagi untuk yang lain, maka merenunglah. Tetapkan keputusanmu. Kau adalah pemimpin dirimu sendiri. Bawalah dirimu pada kepastian. Jangan menyakiti orang lain hanya karena ketidakpastianmu. Dia pantas bahagia, sama sepertimu. Jangan sia-siakan hidupmu untuk menyakiti seseorang.

Jika kau telah menetapkan hatimu, tapi ia menolakmu, terimalah. Dengarkan alasan dan penjelasannya. Jika ia masih ragu atas dirimu, yakinkan ia dengan kesungguhan yang kau punya. Buktikan kau mampu membahagiakannya seutuhnya yang kau mampu. Tapi jika ia tak berniat menjalin hubungan denganmu atau hanya ingin berteman, maka lapangkanlah dadamu. Tunjukkan jiwa besarmu. Jangan siksa dia dengan perasaanmu. Jangan menimbulkan masalah untuknya di kemudian hari. Jangan sampai ia berlaku kasar dan menyakiti hatimu hanya karena kau memaksa.

Memang butuh waktu untuk bisa ikhlas, tapi yakinlah bahwa kau orang kuat yang mampu memaafkan tanpa diminta. Menyendiri dan merenung, itulah yang kau butuhkan.

Inspirasi dari Hilbram Dunar

"Bukan cinta bila tak meneteskan air mata, karena sedih luar biasa atau bahagia tak terhingga"


Itulah sepenggal kalimat yang diusung oleh Hilbram Dunar dalam bukunya, mungkin ada yang sudah pernah baca (jujur, aku belum baca, tapi aku sangat ingin memiliki buku itu ^_^)

Pertama kali kudengar kalimat itu dalam sebuah talkshow yang membahas buku Hilbram Dunar. Beliau menjelaskan cinta bukan hanya tentang sepasang kekasih, tapi bisa tentang keluarga, yang jelas cinta itu perasaan yang tulus.

Sejenak aku tertegun. Kalimat itu begitu sakti, menurutku. Kalimat yang punya makna dalam, sedalam samudera, tinggi, setinggi langit, dan begitu tajam melebihi belati. Kalimat yang universal dan dimiliki semua orang.

Cinta digambarkan tidak berbatas, dengan sedih atau bahagia yang terlalu hingga mampu meneteskan air mata. Tapi bagaimana pun itu, entah bahagia atau sedih, seseorang akan menangis jika hatinya tersentuh.

Beruntunglah jika kau mampu menangis. Itu artinya, kau masih memiliki hati yang tak mati!

Playboy

Ini pandangan pribadiku mengenai sosok yang sering disebut "playboy", momok bagi banyak perempuan..

Playboy adalah seorang pecundang yang mengobral janji dan tak bisa menepatinya. Ia tak bisa membahagiakan seorang wanita dengan utuh karena ia tak bisa apa-apa. Sehingga ia mencari wanita-wanita dengan kadar kebahagiaan rendah untuk dijadikan mainan sekaligus menutupi kelemahannya yang tak mampu tulus dan memakai hati di setiap tindakannya, ia tak mampu memberi kebahagiaan yang utuh pada satu wanita. Mereka kejam dan tak punya hati. Jauh di dasar hatinya, sesungguhnya ia lumpuh dan sendiri..

Jumat, 18 Mei 2012

Prinsip

Aku bukan sok suci, tapi ini prinsip!
Ku berharap pendamping ku kelak merasa sangat beruntung bisa memiliki ku sebagai pendamping hidupnya.
Bukannya aku tak tertarik untuk menjalin hubungan saat ini, tapi yang kuinginkan hubungan yang serius.
Aku hanya menjaga diri agar tak seperti perempuan zaman sekarang.
Seperti intan berlian di toko perhiasan yang diletakkan dalam etalase yang indah dan megah. Tak sembarang orang bisa menyentuhnya, apalagi memilikinya.
Sekali lagi, ku berharap pendamping ku kelak merasa sangat beruntung bisa memiliki ku sebagai pendamping hidupnya.

Dalam Diamku

Ku tersadar suatu hal, tentang luka masa lalu yang masih basah. Setelah kurenungi, kurasa ini karena keluguan dan ketidaktahuanku tentang perasaan dan cara menyalurkannya. Ku terlalu tunduk pada kata-katanya sehingga ku tak sadar arah hidupku. Kakiku kulangkahkan mengikutinya, hidupku kuarahkan padanya.

Bodohnya, meski aku sadar kau salah, tapi aku selalu luluh dan meredam amarahku. Hingga suatu saat rasa sakit ini tak tertahankan dan kumuntahkan dengan caraku. Diamku bukan karena ku bisu, tapi aku tak mampu berkata-kata dengan pedih yang kutahan.

Seharusnya kau sadar, merasa bersalah, dan menyesal. Tapi yang terjadi adalah dengan entengnya kau menjalani hidup tanpa memperdulikan iblis yang bersemayam di hatimu. Goyahnya aku sehingga belum mampu berpaling.


Jika hilang iman dan warasku, ku bunuh kau!!!
Kukirimi kau pisau belati
Kumohon dengan setulus hati
Agar kau menusuk jantungmu sendiri
Karena aku tak mau ternodai

Sudah kukirimi pisau belati
Tapi kau tak jua bergeming
Lalu kukirim keris beracun
Berharap kau tahu sakit hati ini
Supaya aku cepat berpaling
Agar dendam tak menahun

Antara Superman dan Spiderman

Sebelumnya aku menceritakan tentang seseorang yang kukagumi yang kuanggap 'Superman'.

Sedikit kuceritakan awal kekagumanku pada sosok ini. Dia adalah seorang pria sebayaku yang memiliki postur tubuh proporsional dan sesuatu yang menarik di wajahnya. Jika ku jelaskan apa yang menarik di wajahnya, mungkin banyak orang yang langsung menebak siapa dia, jadi aku ingin tetap merahasiakan jati dirinya. Sosok pria ini awalnya biasa saja di mataku, layaknya teman-teman lainnya. Tapi suatu hari dimana aku sedang belajar di kelas yang sama dengannya, sang dosen yang cerdas menyebutkan suatu pertanyaan pada kami semua, sontak kami semua mulai memikirkan analisis dari pertanyaan itu. Saat berfikir, aku mulai menoleh-noleh untuk mencari inspirasi jawaban, seketika itu mataku menangkap sesosok pria yang tengah berfikir. Seperti ada kilauan yang hadir di sekelilingnya, aku pun terpesona!

Penilaianku adalah dia seorang pria yang cerdas dan aku suka itu. Semakin dalam aku menatapnya dan aku sadar aku telah mengaguminya. Dialah Superman-ku. Tapi mirisnya, kusadari bahwa ia tak pernah menatapku saat bicara denganku. Dia begitu dingin saat sesekali menatapku. Hal itu mengiris perasaanku. Kenapa harus berlaku begitu padaku, sedangkan tidak pada yang lain?? Apa salahnya diriku?

Suatu hari kuakhiri rasa kagumku pada Superman agar tak terlalu dalam dan menimbulkan masalah di kemudian hari. Saat itu munculah Spiderman yang entah kenapa beberapa hari belakangan memberi perhatian yang lebih dan bersikap aneh. Ku tak mau terlalu cepat menganggap ia menyukaiku, tapi tak bisa kupungkiri ada indikasi seperti itu.

Hatiku langsung berontak tak terima. Jelas-jelas yang kumau Superman, bukannya Spiderman. Seandainya Superman bersikap seperti Spiderman, maka tak ada alasan untuk menolaknya. Tapi Superman yang bersikap sedingin itu tidak akan mungkin berubah sehangat Spiderman. Untuk itu, kuputuskan kembali ke prinsip awal, aku tak mau pacaran hingga usia 22 tahun.....

gemini girls

16 Mei merupakan hari serba telat dan sebuah keceriaan baru..
  • Telat datang ujian, sampai-sampai muncul spekulasi di kelas... Ah, ada-ada saja, tapi itu cukup lucu saat mereka dengan histeris menyambut kehadiranku di kelas. Mungkin mereka ingin berteriak saat kemunculanku, tapi berhubung dosen telah masuk, rasa itu tertahan. Mereka hanya mampu menghadirkan tatapan penuh pertanyaan yang membuatku geli.. heheheh... Maafkan aku, tapi aku bahagia karena kalian penuh perhatian.. ^_^
  • Telat jemput adik, dikarenakan terlalu lama nankring bareng anak2 "X10C".. Wah, waktu berkumpul itu terlalu mahal, sehingga aku harus membayarnya dengan telat jemput adik, sehingga dia jalan kaki untuk sampai ke rumah, untungnya dia bareng temannya, sehingga rasa bersalahku tak menggunung... I Love U my little brother :*
  • Telat tidur.Tak seperti biasa di saat aku tidur lebih awal dan terbangun di tengah malam, tapi hari ini benar-benar belum tidur. inilah yang ingin kukisahkan pada postingan kali ini..


Pukul 22.25 WIB HPku bergetar (suatu hal langka jika aku menggunakan nada dering, yang selalu kugunakan hanya profil silent dengan vibrate). ku lihat HP itu dan aku terkejut mendapati nama yang muncul adalah nama seorang perempuan yang kuanggap sebagai ibuku (ibu angkatku).

Beliau memulai pembicaraan dengan menceritakan luka hati yang tengah dirasakan. Seketika aku mengingat tentang ramalan minggu lalu yang bilang tentang berita buruk yang akan kudengar. Mungkin hal ini yang dimaksud.

Ku kira dengan topik sepilu itu akan melahirkan bulir-bulir air mata, tapi yang terjadi adalah tawa berderai yang mengalir dari mulutnya, begitu pun aku. Kami memang memiliki zodiak yang sama, gemini, mungkin hal itu membuat kami nyambung dan mengerti satu sama lain.

Secara umum kisahnya hampir sama dengan tragedi yang kualami dan beliau pun tahu hal itu, tapi teknis permasalahan dan complicatednya berbeda. pembicaraan kami ngelantur kemana-mana hingga kami berbalas puisi dan menciptakan puisi bersama. puisi itu dijadikan status di akun facebooknya. sesuai kesepakatan, maka aku membalas puisi itu dengan puisi yang kuciptakan. akhirnya malam itu kami berbalas puisi yang menggambarkan perasaan masing-masing.

hingga jam 01.00 WIB kami mengakhiri permbicaraan di tlp dan comment-comment-an di  jejaring sosial. Sungguh beruntung ku memiliki teman sepertimu.. I Love U Mom, semoga kita bisa melanjutkan kegilaan hari itu..

Rabu, 16 Mei 2012

my superman

hei, kau!
Apa salahnya memperlakukanku seperti yang lain?
Kenapa harus bersikap sedingin itu?
Selama ini aku hanya memandangi punggungmu
Apa itu mengganggumu?
Apa itu mengusikmu?
Baiklah, tatapan itu ku anggap sebagai jawaban
Setidaknya kau tak pernah tau kalau aku sempat mengagumimu, my superman...