Sabtu, 13 Desember 2014

kembali

Lagi, sandaranku patah. Tak mampu menopang sagala asa dan air mata. Duniaku perlahan buram, seakan tertelan lubang hitam kepahitan. Aku salah langkah, semua berantakan, akibat rencana hidupku yang tak mantap. Aku terlena dengan berbagai pengharapan bahagia. Aku gamang melangkah. Aku terlambat menyelesaikan studi. Aku kehilangan sahabat-sahabat yang selalu mendukungku. Aku mempertaruhkan waktu yang terlalu berharga untuk ditukar dengan perhatian sekedarnya dan kata sayang yang harus kubiasakan. Aku menjadi pecundang dalam rencana yang kubangun.

Ruang

Tak ada ruang yang aman dan nyaman untuk ku berlindung.
Sedang dengan diri sendiri pun aku belum menyatu.
Tak ada tempat maupun hati yang menampung seorang aku.
Aku tak betah di rumah.
Aku apa dan siapa?
Getir rasanya harus melakoni peran yang karakternya tak kupahami.
Aku mencari kebahagiaan dari mana pun dan siapa pun yang memberi.
Aku gusar!
Aku dianggap apa dan siapa?
Berlari dari peran berat yang kupikul sebagai anggota keluarga pada sosok yang kuanggap menjadi penghapus duka.
Aku lupa, setiap orang punya kepentingan, bukan tugasnya pula untuk selalu menghiburku.
Aku terlalu tinggi berangan.
Pada diri sendiri yang tak kukenali akhirnya aku kembali.
Meski aku tahu tak akan berbuat apa-apa ataupun merubah segala.
Aku hanya ingin orang yang mampu mengalihkan lara, meski untuk sementara.
Saat aku dapat tersenyum dalam tangis, tanpa ia tahu aku menangis.

Jumat, 05 Desember 2014

Tentang perasaan memang selalu tak mudah. Aku tak pernah main-main dengan hati, tapi sering dipermainkan Sudah empat, sekarang aku terlalu lelah untuk mengikuti arah cinta. Memulai sesuatu yang baru dan melepas ikatan masa lalu bukan perkara mudah. Alasanku bersikap begini hanya untuk melindungi diriku dari pahit yang pernah kudapati. Mungkin cenderung keras kepala-seperti yang selalu kau gemakan-tapi aku tak ingin mengulang silam, maka aku menjalani yang kuyakini bisa menjauhkan ku dari bayang-bayang silam.