Sabtu, 23 Juni 2012

Jangan Paksa Aku Memusuhimu

Jangan Paksa Aku Memusuhimu

Diamku bukan karena ku bisu
Tapi karena aku tak mampu berujar saat menahan perih
Imajinasimu melumpuhkanku
Meredupkan sinarku
Imaji belum tentu nyata
Tapi kau langsung menghakimi
Bukan aku tak mengaharap yg terbaik
Tapi aku juga seorang pemimpi

Pena yg kau goreskan pada kertas memang tak mampu dihapus
Tapi kau bisa mencoretnya dan menuliskan yang benar

Kamis, 21 Juni 2012

Pernah??

Pernah ditimpuk bola??

nah, aku pernah ditimpuk bola voley.
begini kisahnya...
Suatu sore nan indah aku mengunjungi rumah nenek. Di sana ada sebuah lapangan luas yang disebut "Lapangan Matador". Entah dari mana nama itu berasal. Di sana sedang diadakan kompetisi Volley ball yang diikuti banyak team dari daerah sekitar.

Dengan bangga aku duduk di barisan pertama penonton bersama sepupu dan tante. Hari yang menyenangkan kukira, awalnya. Sebab saat itu yang bertanding adalah bences-bences alias pria gemulai. Aksi yang sangat menghibur melihat tingkah polah mereka yang menggelikan. Sayangnya, musibah datang. Aku terkena bola tepat di wajahku yang dipukul dengan kuat oleh salah satu bences itu. Dia segera menghampiriku dan berkata, "Sorry". Cuma itu! Ia berlalu dan mengambil bola. Wajahku memerah, entah karena rasa sakit atau pun malu. Tante yang khawatir dan takut dimarahi papa segera membawaku pulang, padahal aku masih ingin menyaksikan pertandingan ituuu


Pernah dilempar jaket oleh pencopet??

Wah, kalo ini termasuk salah satu penyebab aku trauma naik angkot. Ketemu copet hampir tiap hari, siapa yang ga bakal gemetar, apalagi aku memang penakut. Selain itu, menjadi target copet beberapa kali, untungnya aksinya gagal.

Huft,,, jika aku harus naik angkot sendiri dan duduk di sebelah pria, khususnya bapak-bapak, lebih baik aku turun dan naik angkot lain, atau kalo perlu aku pulang! Entah kenapa harus aku yang melihat gerak gerik si copet. Instingku cukup kuat untuk mengenali si copet di dalam angkot. Perasaanku langsung ga enak kalo di dalam itu ada copet.

Suatu hari sehabis mengikuti kelas intensif, aku pulang menggunakan angkot. di depanku duduk dua pria. Aku mulai curiga dengan gelagat mereka, hingga tanpa kusadari aku terus saja memperhatikan mereka. Ternyata mereka terganggu karena tak leluasa bertindak. Akhirnya mereka turun dan sesaat sebelum keluar dari pintu mereka melempat jaketnya ke wajahku dan membuatku terkejut setengah mati. Gemetar bukan kepalang tanggung. Tapi setidaknya aku berhasil menggagalkan aksi mereka.


Pernah menguntit pria??

Kalo yang ini bukan inisiatifku. Tapi berhubung saat itu aku bosan dan seorang teman minta tolong, akhirnya sepulang sekolah kusanggupi permohonannya. Dengan alasan membeli bluetooth untuk keperluan komputer akhinrnya kami mengikuti pria itu.

Pria itu adalah teman sekelas kami, sebut saja Mr. X.
Teman perempuanku sebut saja Miss Y.

Miss Y sudah lama mengagumi sosok Mr. X. Selidik punya selidik ternyata Mr. X punya sebuah toko komputer atau semacamnya. Kebetulan aku ingin membeli bluetooth tapi ga tau mau beli dimana. Seperti mendapat angin segar, Miss Y memberitahuku tentang ide gilanya. Sepulang sekolah kami mengikuti Mr. X pulang. Menaiki bus yang berbeda, menanti dia turun di persimpangan sambil bersembunyi, hingga jalan mengendap-endap di belakangnya. Sampai akhirnya ia sampai di rumahnya dan masuk. Rumahnya yang bersatu dengan toko membuat Miss Y bahagia bukan kepalang. Kami menuju ke toko dan membeli barang yang kami butuhkan. Ternyata di toko cuma ada pegawai dan adik laki-lakinya. Sedikit kecewa, karena Miss Y berharap saat itu Mr. X sedang menjaga tokonya.

Sebuah pengalaman baru bagiku tentang kegilaan seorang gadis yang mengejar pujaannya.. hahahahahha :)) 

Minggu, 10 Juni 2012

Mom, you are everything..

Mom, you're everything..

Suatu kejadian yang bener-bener menyadarkanku arti penting kehadiran ibu bagi anaknya, khususnya anak perempuannya.

Hidup di daerah yang kental adat sedikit banyak tentu membuat kita kewalahan, apalagi bagi generasi muda yang biasanya hanya berdiri di garda belakang suatu acara adat. Seperti regenerasi, yang berdiri di garda depan pastilah orang tua-tua yang lebih berpengalaman dan ahli di bidang keadatan, dilanjutkan orang dewasa sepangkat ibu atau ayah di garda tengah, dan yang lajang di garda belakang. Begitulah siklus keadatan menurutku.

Sodaraku saat itu akan melangsungkan pernikahan, tentunya dengan adat Minang. Ditinggal oleh ibu beberapa tahun silam akibat tumor, ternyata cukup menyisakan pedih yang mendalam. Meskipun kehadiran kluarga yang lain yang ikut membantu persiapan jelang pernikahan tetap saja tak mampu menggantikan posisi ibu.

Hal ini terbukti saat mengundang saudara dari keluarga "mamak" (paman). Menurut adat, pria diundang oleh pria, perempuan diundang oleh perempuan. Karena waktu dan banyaknya pikiran mungkin membuat kluarga ini sedikit mengabaikan hal itu, sehingga membuat pihak perempuan di keluarga mamak tersebut tersinggung.

Itu berakibat pada dialog yang semakin lama berujung cekcok antara anak dan bapak. Aku yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa terdiam dan miris di dalam hati. Sang ayah mengalah dengan diam. Itu lebih menyesakkan bagiku. Sang anak juga mencurahkan sedikit perasaannya kepada ibuku dan tentunya aku mendengar percakapan itu.

Suasana dingin sedingin angin yang berhembus kencang di luar sana. Terus terang aku kasihan pada sang anak. Memang mungkin dia belum terlalu mengerti tentang adat, tapi adat menuntut itu. Yang lebih membuatku bergetar adalah menyaksikan sang ayah yang berlalu dalam diam. Mungkin beliau memang diam, tapi matanya bicara!

Mata yang menatap ke depan seolah bertanya apakah ia masih sanggup menjalani hari esok untuk anak-anaknya? Penyesalan mungkin tersembunyi di balik hatinya. Mungkin juga dalam lirih hatinya berbisik, "Seandainya istriku masih di sini".

"Seandainya ibu masih di sini", mungkin itu juga yang terselip di batas asa sang anak.

Jika aku di posisi itu, mungkin aku sudah tak kuasa berpura-pura tegar dan menyembunyikan air mata. Aku mungkin tak kuasa memandang wajah ayah yang diam. Mungkin aku akan meronta pada Tuhan untuk mendatangkan mukjizat atau bala bantuan, atau memundurkan waktu, atau malah menghilang.

Betapa hebat keluarga itu, mampu tegar dalam himpitan perasaan. Mampu terus menatap ke depan meski bertumpu pada tubuh yang tak utuh. Mungkin sang ibu di alam sana juga merasakan hal yang sama...

Sabtu, 09 Juni 2012

Surat Cinta Mrs. E

Ini nih, ada yang nyasar ngirim surat cinta. Hehehehe...
Penasaran?? Penasaran?? Ayo baca selengkapnya...

Kelas terakhir di hari itu telah usai. Semangatku untuk menuju rumah tak terbendung. Bersama mbakbro, Ihsani Mazelfi, aku menuju My Lovely. Betapa tersentaknya aku melihat secarik kertas yang diremuk diletakkan dalam box luar motorku. Awalnya, kukira itu sampah dan aku cukup kesal karena mengira ada orang yang sembarangan membuang sampah di motorku. Alangkah kagetnya ketika kubuka ternyata tertulis beberapa baris kalimat yang isinya, sebagai berikut:


#mohon maaf karena no HP yang bersangkutan tidak bisa ditampilkan untuk kepentingan privasi yang bersangkutan

Wah, wah, wah.. Pinjem istilahnya Oom Tukul dulu yaaa,, Amazing.. :))
Tapi sayang, aku ga pernah make headset ke kampus. Mrs. E, maaf ya, tapi sepertinya Anda salah orang. Mungkin orang yang Anda maksud memang menggunakan motor yang setype dengan motorku, tapi alangkah baiknya bila Anda menghafal Nomor Polisinya agar tidak salah orang.

Sejujurnya aku sangat menghargai usahanya, walaupun tak sesuai prinsipku. Setidaknya ia berani mengungkapkan perasaannya. Tapi hal yang sedikit aneh keliatannya adalah nama yang ia tuliskan pada kertas itu, "Mrs. E". Itu artinya Nyonya E. Wah, bukankah seharusnya Miss E?? Tapi yasudahlah, toh surat itu tak sampai pada orang yang dimaksud (berharap bahwa memang benar bukan aku orangnya). Mungkin belum saatnya Anda menyampaikan surat itu. Mungkin Anda harus menulisnya di kertas surat dan meletakkannya di tempat yang lebih aman dan memastikan keberadaannya..

Wah, sore yang begitu berwarna :))

Selasa, 05 Juni 2012

Kaca Spion

Sebenernya pengen bnget bisa posting cerita lucu, pokoknya yg bisa bikin ngakak n seru... tapi kayaknya aku ga berbakat untuk nulis genre begituan, klo diceritain langsung sambil ngerumpi sich bisa, tapi klo pke media lain, lucunya jadi garing...

Ya memang genre melankolis lebih cucok kali ya... hehehe ^_^

oya, ini ada satu pengalaman lagi yg pengen aku share. Semoga bisa jadi pembelajaran dan bisa bikin kita yakin sama kemampuan sendiri.

Setiap motor yang baru dibeli pastinya kaca spionnya dua donk alias spion berdo'a. Tapi klo udah lama biasanya si pemilik ngelepas satu spion, alhasil sisa satu lagi ya. Nah itu juga yang terjadi sama motorku.

Waktu itu ada acara "kesma" (kemah sosial mahasiswa ekstensi), otomatis kita camping donk dan ga mungkin bawa motor. Dengan berat hati "si baby" melepasku. hahaha.. (Sebenernya kebalik, aku yang ga rela ninggalin My Lovely Xeon). Jadi singkat cerita selama motor kutinggal, si adek yang make motor itu ke sekolahan. Maklumlah, emang dasar ABABIL alias abg labil, tu anak nyopot spion kirinya dan dengan bangga ia menggantinya dengan hiasan smile yang sampe sekarang masih nankring dengan setia di motorku. Mungkin karena merasa bersalah dan takut diomelin dia ganti pke smile itu, soalnya aku suka banget sama itu.

Emang sempet risih sih tanpa kehadiran spion kiriku. Awalnya masih sering lirik-lirik ke spion kiri, waktu diliat kosong baru sadar deh kalo spionnya udah diganti si smile. Ya wajar aja, kita udah bergantung terhadap sesuatu, tapi tiba-tiba sesuatu itu hilang pastinya kita belum biasa dan butuh adaptasi kan.

Itu pelajaran yang aku ambil dan selalu kuingat saat aku kehilangan sesuatu yang berarti. Itu yang membuatku kuat. Mungkin awalnya berat kehilangan seseorang yang berarti, apalagi kita terlanjur bergantung pada orang tersebut. Awalnya pasti sering keinget dan kepikiran. Tapi kalo dibiasakan nantinya juga biasa dan ga keinget lagi kok. Percaya deh, aku udah ngebuktiin.

Dan gara-gara tanpa spion kiri itu, aku jadi terlatih untuk noleh-noleh di motor, jadi lebih luwes dan ga kaku bawa motornya. Percaya pada kemampuan sendiri. Kalau kita terbiasa bergantung pada sesuatu, kita ga bakal tau potensi kita sesungguhnya. Tapi begitu ada yang hilang dan mau ga mau kita harus mengandalkan diri sendiri, maka potensi tersembunyi juga bakal keluar. Pastinya kita bangga sama diri sendiri donk. Yakinlah, kita lebih kuat dari apa yang kita pikirkan tentang diri sendiri..

Keep smile and spirit ^_^

Sabtu, 02 Juni 2012

Untuk seseorang di sana

Untuk seseorang di sana,
Kini kulepas semua beban yang menghimpit pundakku selama ini
Dengan melepasmu hatiku merasa lega
Tapi kumohon bantuanmu untuk melepasku juga
Aku tak ingin menimbulkan masalah
Kau masa laluku, masa kelamku
Kau memporak-porandakan hidupku
Tapi ingat!
Tak kan ku biarkan kau menghancurkan masa depanku
Kembalilah pada Tuhan
Jangan dustai hati nuranimu

Kedamaian

Aku hanya ingin kedamain. Terlalu banyak yang kulalui melebihi anak seusiaku. Tapi aku bersyukur atas itu, aku punya banyak pengalaman yang mendewasakan, sehingga pemikiranku banyak yang tak bisa menalarnya.

Aku merasa semakin di puncak klimaks. Aku menanti roda kehidupanku kembali di atas, seperti masa kecil dan SD ku yang penuh kebahagiaan, meski pun tak kusadari kebahagiaan itu. Aku merasa itu hal biasa, tapi kini kusadar tak semua orang mampu berada di posisiku waktu itu. Hingga tak bosan aku bersyukur atas itu.

Tapi kini berubah, aku tumbuh dengan begitu banyak cobaan. Sempat aku mengeluh, usiaku belum 19 tahun, tapi kenapa hal yang kuhadapi melebihi anak seusiaku? Mungkin dulu aku masih terlalu kecil untuk menyadari nikmat yang ku dapat saat itu, sehingga di saat aku mulai bisa berfikir yang terjadi aku berada di posisi ini.

Semua masalah bertubi-tubi datang 5 tahun terakhir. Aku harus bertahan. Mengalah pada keadaan sama dengan mati. Aku tak mau mati sia-sia. Setidaknya aku kalah terhormat.

Aku sangat menyukai kupu-kupu dan lumba-lumba. Bukan tanpa alasan, tapi aku ingin seperti mereka yang tulus. Lumba-lumba hewan yang sangat baik dan bersahabat. selalu membantu dan begitu ceria. Kupu-kupu hanya mampu hidup 21 hari sejak ia berubah menjadi kupu-kupu. Tapi lihatlah kupu-kupu, hadirnya singkat tapi penuh makna dan keindahan. Meski hidupnya singkat, tapi ia membantu penyerbukan bunga. Sayapnya yang berwarna warni pasti mampu membuat orang yang melihatnya merasa tenang. Aku ingin seperti itu. Aku tak ingin sia-sia, kehadiranku kuharapkan bermakna.