Mom, you're everything..
Suatu kejadian yang bener-bener menyadarkanku arti penting kehadiran ibu bagi anaknya, khususnya anak perempuannya.
Hidup di daerah yang kental adat sedikit banyak tentu membuat kita kewalahan, apalagi bagi generasi muda yang biasanya hanya berdiri di garda belakang suatu acara adat. Seperti regenerasi, yang berdiri di garda depan pastilah orang tua-tua yang lebih berpengalaman dan ahli di bidang keadatan, dilanjutkan orang dewasa sepangkat ibu atau ayah di garda tengah, dan yang lajang di garda belakang. Begitulah siklus keadatan menurutku.
Sodaraku saat itu akan melangsungkan pernikahan, tentunya dengan adat Minang. Ditinggal oleh ibu beberapa tahun silam akibat tumor, ternyata cukup menyisakan pedih yang mendalam. Meskipun kehadiran kluarga yang lain yang ikut membantu persiapan jelang pernikahan tetap saja tak mampu menggantikan posisi ibu.
Hal ini terbukti saat mengundang saudara dari keluarga "mamak" (paman). Menurut adat, pria diundang oleh pria, perempuan diundang oleh perempuan. Karena waktu dan banyaknya pikiran mungkin membuat kluarga ini sedikit mengabaikan hal itu, sehingga membuat pihak perempuan di keluarga mamak tersebut tersinggung.
Itu berakibat pada dialog yang semakin lama berujung cekcok antara anak dan bapak. Aku yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa terdiam dan miris di dalam hati. Sang ayah mengalah dengan diam. Itu lebih menyesakkan bagiku. Sang anak juga mencurahkan sedikit perasaannya kepada ibuku dan tentunya aku mendengar percakapan itu.
Suasana dingin sedingin angin yang berhembus kencang di luar sana. Terus terang aku kasihan pada sang anak. Memang mungkin dia belum terlalu mengerti tentang adat, tapi adat menuntut itu. Yang lebih membuatku bergetar adalah menyaksikan sang ayah yang berlalu dalam diam. Mungkin beliau memang diam, tapi matanya bicara!
Mata yang menatap ke depan seolah bertanya apakah ia masih sanggup menjalani hari esok untuk anak-anaknya? Penyesalan mungkin tersembunyi di balik hatinya. Mungkin juga dalam lirih hatinya berbisik, "Seandainya istriku masih di sini".
"Seandainya ibu masih di sini", mungkin itu juga yang terselip di batas asa sang anak.
Jika aku di posisi itu, mungkin aku sudah tak kuasa berpura-pura tegar dan menyembunyikan air mata. Aku mungkin tak kuasa memandang wajah ayah yang diam. Mungkin aku akan meronta pada Tuhan untuk mendatangkan mukjizat atau bala bantuan, atau memundurkan waktu, atau malah menghilang.
Betapa hebat keluarga itu, mampu tegar dalam himpitan perasaan. Mampu terus menatap ke depan meski bertumpu pada tubuh yang tak utuh. Mungkin sang ibu di alam sana juga merasakan hal yang sama...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar