Selasa, 19 Mei 2015

Kurelakan dia karena Dia

Banyak ceramah agama yang aku ikuti, tapi kali ini aku benar-benar mengalami. Bagaimana kuatnya hubungan berusaha, berdoa, dan berserah diri. Aku paham ada hal yang tak bisa kucampuri, yaitu urusan Tuhan. Aku belajar untuk berusaha semampuku sampai aku sadar bahwa sudah waktunya aku menyerahkannya pada Tuhan, biarkan Tuhan bekerja.

Aku merasakan bagaimana tenangnya hati saat bisa memasrahkan semua. Aku tahu sakitnya kehilangan, tapi Tuhan selalu punya jalan untuk mengganti yang hilang. Tiba-tiba banyak yang mendekat, baik yang sudah jauh ataupun yang baru hadir. Aku paham aku belum mengizinkan siapapun masuk kembali ke hatiku, tapi aku selalu membuka diri untuk semua pertemanan yang tulus.

Ya, aku merasakan sangat banyak orang yang menyayangiku, banyak orang disekelilingku yang peduli dan mendukungku, hingga tak ada alasan bagiku untuk bersedih. Aku bahagia dengan kebaikan dan ketulusan mereka. Aku tersenyum setiap hari dengan segala apa yang aku jalani bersama mereka. Aku bahagia hingga aku lupa semua kesedihan dan lelah yang kualami.

Sabtu, 09 Mei 2015

Bicara dalam Diam

Sampai kapan kita begini? Atau kita sepakati terus begini? Aku terlalu sering bicara dalam diam, tapi ini tak menarik lagi, aku bosan. Apa lelaki sekarang menjadi pecundang? Kenapa cara kalian sama? Hingga detik ini pun aku masih bertanya tanpa tahu siapa yang memberi jawaban.

Aku tak bisa menyimpan marah, apalagi dendam. Terlalu jauh dari "aku". Bisakah kita redam mulut-mulut yang selalu condong ke kita? Tahukah engkau, sudah beberapa omongan kuredam sendiri, sendiri! Bisakah kau bantu aku? Setidaknya kita selalu baik, selalu baik tanpa perlu mengusik kelam. Sudah terlalu usang untuk diumbar, lebih baik kita bersikap dewasa.

Lalu apa kabarmu? Terasa lama sekali dan begitu jauh. Lama-lama kau bisa terhapus, aku serius! Cepatlah jadi pria, itu pesanku!