Tuan,
Aku yakin hatiku dipegang Tuhan, sehingga tak merasa sakit dan kecewa. Maafkan aku tak bisa beradaptasi secepat itu, masih sulit untuk menghapus pahit lalu yang kental menjejaki hatiku.
Tuan,
Aku takut untuk mempertahankan yang tak ingin bertahan, memperjuangkan sesuatu yang akhirnya meninggalkanku rasanya amat sakit, aku terlalu takut kembali ke masa lalu. Menurutku, hanya keledai yang jatuh ke lubang yang sama berulang kali.
Tuan,
Kau belum mengenalku seutuhnya, seandainya ada waktu bertemu sebelum penyudahan itu, aku telah berencana menjelaskan padamu hitam putih diriku. Kau tau hidupku membentukku untuk kuat dan bisa berdiri sendiri. Banyak beban yang aku pikul, aku rasa kau tau meski tak paham. Setidaknya aku ingin kau paham, aku begini punya sebab yang sebaiknya kau pahami, andai kau punya waktu lebih untuk memahamiku.
Tuan,
Aku pernah merendah serendahnya di masa lalu meski bukan padamu, kau tau aku baru bangkit dari mati rasa. Maafkan aku, Tuan. Aku pernah nyatakan bahwa aku lebih suka bertatap dari pada melalui perantara, tapi kenapa kau masih bilang aku keras kepala padahal kau juga begitu?
Tuan,
Seandainya ada waktu lebih untuk berkenalan dan memahami. Ah, aku diajarkan untuk tidak menyalahkan yang terjadi, apalagi menyesalinya, secara tersirat metek mengajariku begitu.
Tuan,
Dari lubuk hati kusampaikan terima kasih atas kesempatan yang kau beri. Aku akhirnya bangkit dari kelamnya masa lalu. Aku ingin kau mengenalku sebagai perempuan yang setia, aku pegang yang kuucap.
Tuan,
Dalam menyukai seseorang, aku tak memaksa untuk memiliki, cukup aku rasa sampai rasa itu menghilang. Aku bingung harus mengatakan apa, maaf dan terima kasih telah kuucapkan. Meski aku rasa kisah ini kesalahpahaman sehingga jadi begini, tapi aku ikhlas, Tuhan telah merestui hal ini terjadi padaku, kenapa aku harus berontak? Sudah semestinya aku ikhlas menerima ini. Aku pernah dengar kalau cobaan bisa menggugurkan dosa, benarkah begitu?
Tuan,
Aku tak ingin mengganggumu dengan ini, apalagi menyakitinya karena aku. Kusudahi dengan ucapan selamat berbahagia :)
Senin, 21 April 2014
Minggu, 20 April 2014
happily ever after
Happily ever after itu impossible, that's mean I'm-possible. hehehe
Emang ga ada yang abadi, termasuk kebahagiaan. Yang aku yakini berdasarkan beberapa pengalaman adalah bagaimana menyikapi setiap hal yang terjadi.
Begitu juga saat dikecewakan. Aku tidak akan mempertahankan orang yang tidak ingin bertahan, nantinya malah membuat masalah baru. Terlalu sibuk mempertahankan minoritas, malah mengabaikan mayoritas. Hidup bukan untuk seseorang atau sesuatu, tapi untuk bersama dan beriringan.
Emang ga ada yang abadi, termasuk kebahagiaan. Yang aku yakini berdasarkan beberapa pengalaman adalah bagaimana menyikapi setiap hal yang terjadi.
Begitu juga saat dikecewakan. Aku tidak akan mempertahankan orang yang tidak ingin bertahan, nantinya malah membuat masalah baru. Terlalu sibuk mempertahankan minoritas, malah mengabaikan mayoritas. Hidup bukan untuk seseorang atau sesuatu, tapi untuk bersama dan beriringan.
Rabu, 16 April 2014
waktu tempuh
Sesuatu yang terfikirkan sekarang adalah waktu. Deadline, usia, dan "kamu". Ada masanya aku terlalu letih sampai tak bisa untuk menatap apapun, tapi saat itu muncul kekuatan untuk bangkit. Entahlah, aku sendiri tak mengerti.
Hal yang aku cemaskan adalah Juni. Aku takut untuk berada di 21, aku ingin tetap 20, usia yang selalu aku harapkan dan menjadi spesial bagiku tanpa alasan yang jelas. Meski dalam rencana hidup aku menuliskan hingga usia 34 tahun, tapi ada ketakutan tersendiri. Ada rasa gamang yang membuat merinding setiap aku harus ingat detik-detik menuju 21. Aku ingi mengisi 20 ini dengan spesial, sespesial aku mendambakannya sejak dulu.
"Kamu", datang dan pergi menjadikan bahagia yang tak terhingga dan luka tak terkira. Aneh. Perasaanku masih tenang meski kau hempas dengan semena-mena. Aku masih baik-baik saja meski beberapa kejadian menyentak ketegaran ini. Seperti yang "dia" katakan, aku kuat. "Dia" mengajariku untuk tegas pada siapa pun, meski caranya terlalu kejam, tapi "dia" berhasil. Waktu yang "dia" habiskan untuk membuat luka cukup ampuh untuk membuatku mati rasa dan "kamu" mengulangi hal yang sama dengan cara berbeda, "kamu" pun sukses membuat hatiku beku lagi.
Entah butuh berapa lama untuk luluh. Entah berapa lama untuk membuka hati lagi.
Hal yang aku cemaskan adalah Juni. Aku takut untuk berada di 21, aku ingin tetap 20, usia yang selalu aku harapkan dan menjadi spesial bagiku tanpa alasan yang jelas. Meski dalam rencana hidup aku menuliskan hingga usia 34 tahun, tapi ada ketakutan tersendiri. Ada rasa gamang yang membuat merinding setiap aku harus ingat detik-detik menuju 21. Aku ingi mengisi 20 ini dengan spesial, sespesial aku mendambakannya sejak dulu.
"Kamu", datang dan pergi menjadikan bahagia yang tak terhingga dan luka tak terkira. Aneh. Perasaanku masih tenang meski kau hempas dengan semena-mena. Aku masih baik-baik saja meski beberapa kejadian menyentak ketegaran ini. Seperti yang "dia" katakan, aku kuat. "Dia" mengajariku untuk tegas pada siapa pun, meski caranya terlalu kejam, tapi "dia" berhasil. Waktu yang "dia" habiskan untuk membuat luka cukup ampuh untuk membuatku mati rasa dan "kamu" mengulangi hal yang sama dengan cara berbeda, "kamu" pun sukses membuat hatiku beku lagi.
Entah butuh berapa lama untuk luluh. Entah berapa lama untuk membuka hati lagi.
Sabtu, 12 April 2014
Aia Dingin
Hari ini begitu spesial. Setelah sekian lama, akhirnya aku merasa hidup lagi, ini yang aku mau, ini diriku. Melakukan kegiatan sosial, bersama orang-orang yang punya kehidupan berbeda adalah salah satu hal yang paling membahagiakan dan suatu harapan yang selalu ngin kuwujdkan sampai kapan pun.
Di 2014 ini, masih banyak masalah pendidikan yang terjadi dan aku tak akan membahas masalah birokrasi di sini. Di sana, siswa per kelas hanya belasan, dalam satu ruangan semua siswa bisa dikumpulkan. Jangan heran melihat mereka tanpa alas kaki, mereka terbiasa seperti itu meski jalanan sekitar sekolahnya belum tersentuh aspal. Bayangkan saja berjalan di atas tanah dan batu yang mungkin juga disertai kotoran ternak yang digembala di sekitar sekolah itu.Personally, aku tak sanggup begitu, kalian?
Sebab aku bahagia bersama mereka adalah sikap mereka selalu antusias dengan hal baru, sehingga mereka menghargai dan mendengar apaun hal yang kita berikan, hal yang jarang sekali kutemui di keseharian. Mereka perlu dibimbing untuk memiliki mental dan sikap yang cerdas.
Rasanya ingin selalu ada di sana sampai mereka benar-benar memiliki cita-cita dan sikap positif untuk sukses. Tapi sayang, wilayah asing itu membuatku tersesat saat pulang dengan aksi tunggal tadi, tapi tak masalah, selalu ada jalan keluar karena hatiku masih tenang.
Oke, semoga aku cepat sukses dan mewujudkan harapanku untuk keliling Indonesia bertemu dengan mereka yang membagi kehidupan yang berbeda padaku. That's my wonderful life :)
Di 2014 ini, masih banyak masalah pendidikan yang terjadi dan aku tak akan membahas masalah birokrasi di sini. Di sana, siswa per kelas hanya belasan, dalam satu ruangan semua siswa bisa dikumpulkan. Jangan heran melihat mereka tanpa alas kaki, mereka terbiasa seperti itu meski jalanan sekitar sekolahnya belum tersentuh aspal. Bayangkan saja berjalan di atas tanah dan batu yang mungkin juga disertai kotoran ternak yang digembala di sekitar sekolah itu.Personally, aku tak sanggup begitu, kalian?
Sebab aku bahagia bersama mereka adalah sikap mereka selalu antusias dengan hal baru, sehingga mereka menghargai dan mendengar apaun hal yang kita berikan, hal yang jarang sekali kutemui di keseharian. Mereka perlu dibimbing untuk memiliki mental dan sikap yang cerdas.
Rasanya ingin selalu ada di sana sampai mereka benar-benar memiliki cita-cita dan sikap positif untuk sukses. Tapi sayang, wilayah asing itu membuatku tersesat saat pulang dengan aksi tunggal tadi, tapi tak masalah, selalu ada jalan keluar karena hatiku masih tenang.
Oke, semoga aku cepat sukses dan mewujudkan harapanku untuk keliling Indonesia bertemu dengan mereka yang membagi kehidupan yang berbeda padaku. That's my wonderful life :)
Langganan:
Postingan (Atom)