Senin, 26 Oktober 2015

Pengalah

Masih kembali dalam resah dan menikmatinya!

Aku cuma ingin sampaikan satu hal saja malam ini, tolong kembalikan baju dari dia!
Aku tak punya banyak kenangan tentang dia, dari sedikit itu salah satunya ya baju itu. Itu sangat berharga. Aku ikhlaskan yang lain asal baju itu kembali. Aku mohon pada siapapun yang telah merusuh di lemariku beberapa waktu ini. Mohon kembalikan milikku.Cukup aku kehilangan orangnya, tapi bukan pemberiannya, kenangannya! Mungkin kau tak merasa, makanya kau tak peduli.

Seseorang bilang aku harus tegas. Katanya aku terlalu pasrah dan mengalah, padahal yang kuhadapi bukanlah orang lemah, melainkan orang-orang licik yang cuma memanfaatkan. Aku pasrah pada keadaan, terlalu iba tak menguntungkan hidupku. Aku hanya tak berani, sungguh. Terlalu lemah menghadapi mereka yang mulai ngelunjak. Aku mulai lelah menjadi pengalah!

Selasa, 08 September 2015

8 September

Setahun yang lalu, di tanggal yang sama meski beda hari, sekitar waktu aku menuliskan cerita ini, aku mendapat kabar yang tak terduga. Seorang yang aku kagumi, banggakan, dan hargai telah tiada begitu saja.

Aku tahu, beberapa waktu sebelumnya aku sempat bermimpi 2 gigiku copot, tapi aku benar-benar tak menduga bahwa itu pertanda untuk beliau. Kaget dan tentu kebingungan mendengar berita itu. Aku datang setelah melewati beberapa jam perjalanan ke rumah beliau. Aku melihat beliau. Aku harus percaya dan menerima keadaan bahwa yang kulihat hanya jasad.

Malam itu aku sendiri tak mampu membaca Yaasin dengan jelas sebab air mata dan isak tangis begitu kentara. Aku tak bisa berpikir. Otak dan hatiku hanya ada beliau.  Saat yang paling menggetarkan adalah kesempatan terakhir untuk dapat menciumnya dan itu menjadi puncak segala sedih. Aku merasa tubuh itu terlalu dingin hingga begitu membekas sampai sekarang. Selepas itu aku gemetaran hebat sambil terisak. Tapi aku merelakan beliau dimandikan dan proses-proses berikutnya.

21 tahun beliau mengabdikan hidupnya untuk pendidikan dan sejak awal merintis karir beliau ditempatkan di Pesisir Selatan, bahkan sampai akhir hayatnya beliau tetap mendedikasikan dirinya untuk pendidikan, khususnya daerah Pesisir Selatan.

Beliau adalah ayah kehidupan bagiku. Beliau menanamkan nilai kejujuran pentingnya pendidikan. Banyak tauladan yang beliau wariskan. Meski aku masih berpikir aku masih dan selalu membutuhkannya. Aku percaya Tuhan mengambil beliau tepat waktu sebab Tuhan pasti Tahu bahwa yang beliau titipkan sudah cukup untuk kami (yang ditinggalkan) melanjutkan hidup. Aku juga yakin bahwa beliau pergi dengan tersenyum sebab beliau merasa kami pasti sudah mampu menjalani hidup tanpa beliau. Kalau ada yang menganggap bahwa aku adalah orang yang baik, maka aku katakan bahwa aku belajar tentang kebaikan dan ketulusan dari beliau. Sungguh beliau beribu kali lipat lebih baik dari siapa pun.

Senin, 07 September 2015

7 September

Hari ini setahun lalu, harusnya aku yang keluar menjemput oleh-oleh beliau (sesuai permintaan beliau). Beberapa hari itu aku memang banyak menghabiskan waktu di kamar. Tepat pada siang itu aku ketiduran dan tak tahu bahwa beliau memintaku untuk menjemput oleh-olehnya di depan komplek. Aku tak pernah tahu hal itu sampai mama -yang menerima pesan itu lewat telepon- menyampaikan hal itu sore harinya.

Markisa hari itu adalah markisa termanis yang pernah kumakan. Oya, ternyata adikku yang menggantikanku menemui beliau saat aku tertidur siang itu. Saat itu aku sedang ada masalah yang bagiku cukup besar. Aku berniat akan menceritakannya lewat telepon, seperti biasanya. Aku tak berfokus pada permintaan beliau, sebab kupikir siapa saja yang mengambil oleh-oleh itu tak kan ada masalah.

Minggu, 30 Agustus 2015

Anti Kucel

Traveler/explorer perempuan ga perlu anti dandan, apalagi canggung pakai make up. Kalau saya, memang nalurinya suka dandan, jiwanya doyan melancong kemana-mana. Waktu travelling ga bakal takut sama yang namanya matahari, tapi habis itu ingat buat perawatan lagi. Cantik itu kan sehat dan terawat. Jangan lupa inner-beauty ditonjolkan lewat senyuman manis yang menandakan ketenangan hati. Itulah keelokan kaum hawa. Kalau saya sih lebih senang diibaratkan Srikandi. Sebab tokoh tersebut memiliki kepribadian ganda, maksudnya perempuan yang tangguh bak laki-laki. Tapi tetap ingat kodrat, Srikandi pun butuh Arjuna :)

Perawatan ga perlu yang mahal, intinya sih yang cocok dan nyaman. Emang sih harga cenderung meyesuaikan kualitas, tapi jangan salah, saya juga menemukan produk yang enteng di kantong tapi manfaatnya emang berasa. Tapi kalau emang mau hemat dan sehat ya back to nature aja. Hal paling penting ya air putih yang cukup. Manfaat air putih mah buanyak banget, tinggal searching aja. Selain itu ya ditambah buah segar supaya vitamin juga tetap terjaga. Saya sih orangnya simple, cukup sediain pisang aja di rumah, bisa skalian menjaga berat badan.

Manfaatin apa yang ada pasti lebih berguna. Biasanya sehabis bikinin kopi buat papa, saya selalu nungguin ampasnya. Oke lah buat luluran telapak tangan dan kaki, kalau ampasnya lumayan banyak ya bisa lulurin badan juga. Hobi ngeteh juga ternyata bisa dimanfaatin loh. Ampas seduhan teh itu bisa dijadiin masker wajah. Sesekali boleh lah pakai peeling atau nyalon biar lebih bersih.

Intinya mulai dari diri sendiri. Ribet? Emang! Mau yang instan juga ada, tapi saya lebih milih pakai usaha sendiri dan jelas sumbernya. Lagian memanjakan diri sendiri kan penting. Tergantung niat si empunya badan :) Jangan sampai traveler/explorer kucel, hehee. Bukan hanya tempat tujuan yang nyaman dan menarik, pelancongnya pun sebaiknya mempesona  :)

Selasa, 25 Agustus 2015

Diantara glitter

Aku tulis ini disela mengeringkan kutek di tangan kananku. Pagi ini sepertinya aku membaca banyak kabar mengenai perasaan. Pasangan yang (pernah) saling mencinta akhirnya menikah dengan orang berbeda dalam waktu yang tak jauh berselang. Hal menariknya adalah mereka masih harmonis sebagai saudara, meski dalam komunikasi yang puitis mereka masih romantis. Hmm romantis..

Ada juga masih sibuk memberi tanda entah pada siapa atau sekedar mempublikasikan bahwa ia sedang mencari pasangan. Kenapa mereka tak pernah bisa menjadi lelaki, maksudku bersikap seperti pria, bukan lagi bocah lelaki. Bermain kias kadang memang misterius, tapi itulah yang kusuka. Membuat orang berpikir dua kali atau bahkan lebih untuk tahu siapa yang sedang dimaksud. Malah kadang kita menggiring kisah seakan-akan untuk seseorang yang diketahui pembaca, padahal itu semacam guyonan yang menjerumuskan. Pembaca, memang orang yang tak bisa ditebak, kadang mereka polos tergiring situasi penulis, tapi mereka juga bisa menjatuhkan si penulis.

Aku teringat pada kisahku, bahkan opini yang kubikin ambigu atau menggiring kawan-kawanku berpersepsi. Aku merasa benar-benar geminian yang berkepribadian ganda. Entah apa aku. Bisa bersikap lelaki juga perempuan. Aku manja tapi tangguh. Masih banyak hal membuatku merasa sebagai gemini sejati. Masalahnya adalah kisah asmara yang tak terlalu baik. Kukira kepribadianku menarik, tapi tak cukup membuat kaum adam terjerat dan bertahan. Aku mulai mengenang satu kisah. Kisah manis yang tragis.

Aku tertarik padamu meski kau terlambat tahu
Aku pernah menantikanmu untuk berani menatapku
Tapi kau semakin menghindari mataku
Ya, kau pemalu!
Pada suatu hari kita pernah bersama di atas kuda besimu
Ah aku lupa sebabnya, maksudku aku ingin mengulangi hari itu
Itu pertama dan satu-satunya, setelah itu hidup kita mulai diteror dan kita sama-sama tak nyaman dengan itu
Di waktu berikutnya kita pernah pergi bersama, ya bersama-sama dengan yang lain untuk melaksanakan tugas
Masih dengan perilaku yang sama, kau malu-malu dan aku berusaha kalem
Kita terpisah,tak tahu bahkan tak mau tahu kabar masing-masing.
Maaf, maksudku mungkin kau tak berniat mencari tahu kabarku
Aku? Masih sama, menyimpan rasa untukku sendiri
Tapi semua berbatas waktu dan rasa itu menguap sewaktu aku tahu bahwa aku kecolongan
Kau sudah punya gadis!
Kita tak pernah berjumpa apalagi bertegur sapa
Pagi ini, aku mengingatmu sembari menambahkan glitter di atas kutek jari-jariku

Senin, 24 Agustus 2015

Miris

Mama bilang sekarang krisis moneter kedua. Imbasnya sudah mulai terasa. Papa mulai sensitif mengatur hutang piutang yang membuat cash of money sungguh menipis. Tentu sebagai seorang pencari kerja aku pun merasakan dampaknya. Sebagai tanggungan orang tua, aku harus membatasi hobiku untuk membuat kue, dengan alasan harga telur terlalu mahal untuk uji coba resep serta jajan mingguan pun mulai tak lancar. Sudahlah jajan dipotong lebih dari setengahnya, kini pun jadwalnya tak menentu.

Keadaan bertambah buruk karena ini akhir bulan, terlalu banyak jadwal kegiatan yang membutuhkan uang, tapi simpananku benar-benar habis. Aku harus putar otak mencari penghasilan dengan modal setipisnya. Aku mulai tertekan.

Hal yang lebih menekan lagi saat tak bisa lagi membantu keluarga yang membutuhkannya, sebab memang waktunya sedang tak tepat. Kebutuhan kami pun masih banyak, itu yang tidak mereka pahami. Kunci kebahagiaan adalah dengan bersyukur, meski pun cobaan berdatangan silih berganti. Kami diam bukan berarti tenang, kami cuma tak ingin memperburuk suasana hati dan pikiran, disanalah letak salah pahamnya kalian. Kalian tetap berpikir bahwa kami baik-baik saja. Kumohon mengertilah.

Anak mana yang tega melihat orang tuanya mulai tak tenang. Apalagi ditambah dengan masalah orang lain yang dilimpahkan ke kami. Sekali lagi, bukan kami tak mau membantu, tapi saat ini kami pun sedang tak stabil.

Ada apa dengan negeri ini? Kenapa semakin sulit hidup di sini? Oh pemimpin, apa yang harus kami lakukan? Kami bekerja tapi tak mencukupi. Penghasilan kami kah yang tak sesuai untuk bisa hidup di negeri ini? Alam yang kaya juga harus dibayar dengan uang yang tak sedikit. Hasil tanah kita pun terlalu sulit untuk dinikmati. Lama-lama bak ayam mati di atas padi. Miris.

Kamis, 13 Agustus 2015

Bahagia itu..

Tulisan pertama di Agustus 2015.

Aku masih dalam perenungan yang tak kunjung usai untuk memahami diriku sendiri. Banyak hal terjadi, banyak hal kupikirkan. Aku masih setia untuk menjadi positif dan percaya, aku tak ingin mengeluh. Bukan tak konsisten, tapi aku belum dapat mengambil keputusan, terlalu banyak pertimbangan, terlalu banyak yang harus dijaga, aku tak mungkin bersikap egois untuk hal semacam ini.

Awal dari masalah ini, aku coba lari, menghindari kenyataan agar aku tak hadapi semua sakit ini. Dalam pengasingan aku bertekad memulai kehidupan yang baru. Tak mudah, sebab aku tak bisa mengendalikan lingkungan yang sewaktu-waktu menarikku kembali pada lubang kelam itu. Aku lelah, benar-benar lelah untuk hidup dalam ketidaktenangan semacam itu. Kembali aku sibukkan diri dengan kegiatan yang entah, aku sendiri pun tak paham gunanya, hanya untuk membuatku keluar dan menghirup udara selain rumah.

Suatu hari aku sadar, aku sangat tidak memahami diriku saat itu, makanya aku tak bisa mengendalikan diri sendiri. Pikiranku liar, rasaku jengah, dan tindakanku konyol. Aku tahu harus meredam, tapi aku belum mengerti apa yang kubutuhkan saat itu, aku tak percaya pada pikiran dan perasaanku sendiri. Aku mulai mencari cara berdamai dengan dirisendiri.

Setidaknya aku mulai tenang,bernafas kembali. Entahkenapa, bertubi-tubi cobaan datang. Aku pikir aku sial, hingga mendatangkan kesialan bagi sekitarku. Aku kembali jenuh, aku berharap tak melakukan apapun agar tak menimbulkan masalah baru. Aku takut, hampir mengutuk diri sendiri yang tak habisnya menghadapi masalah. Terpikir olehku, kenapa aku masih hidup? Kenapa aku masih bertahan? Aku sadar ini urusan Tuhan, tangan Tuhan selalu bekerja.

Aku masih belum paham diriku. Tapi aku sudah damai, berusaha menjaga ketenangan ini tepatnya. Semua masalah ini membuatku tahu yang tersisih dan yang bertahan di sampingku. Aku tahu mereka yang perduli dan aku hargai. Setidaknya aku tahu cara untuk mengendalikan diriku saat ini. Aku berusaha menikmati setiap proses dan hasil dari hidup ini. Susah senang kini kunikmati. Aku tak eduli cobaan yang kuanggap kesialan itu masih tak mau beranjak, tapi aku tak mau kalah dengan itu. Aku nikmati sebagai bagian hidupku. Bersama mereka yang di sampingku, yang tak perduli aku diberikenikmatan atau cobaan, aku menikmati semua ini. Aku bisa tertawa bahagia dan lepas meski cobaan itu berdatangan. Aku bersyukur mereka tak penah mengeluh dan kami selalu punya cara untuk menyiasati cobaan itu. Apapun itu, asal dinikmati dan disyukuri, insya Allah akan mudah dilalui. Bagiku, bahagia itu soal rasa, kenyamanan. Kamu bahagia bila kamu tak mengeluh :)


Salam dari Pariaman:)

Selasa, 28 Juli 2015

Srikandi Dwi Putri

Kami berdua memakai DWI PUTRI sebagai nama panjang. Bukan melalui kesepakatan atau perjanjian sejak lahir, sebab kami lahir di kota yang berbeda dan keluarga yang tak pernah saling mengenal. Nama lengkapnya Sendi Dwi Putri, dia pindah ke SD ku sejak kelas 3, sejak itulah dia menetap di Padang hingga saat ini. Sejak awal kedatangannya kami mulai dekat dan membentuk sebuah genk bernama "MARS". Mars terdiri dari empat bocah, yaitu Mita, Iga, aku, dan Sendi. Sayangya Iga terlebih dahulu dipanggil Allah karena sakit polio yang dideritanya. Semoga sahabat kami berada dalam lindungan Allah..

Semenjak lulus SD itulah kami lost contact dan beberapa waktu lalu aku mencarinya melalui media sosial. Hari ini, setelah sepuluh tahun berlalu akhirnya kami bertemu. Tanggapan pertamanya serta ibunya adalah aku sudah berubah. Ya, aku memang berubah, itulah yang papa katakan padaku. Dulu aku memang tinggi, kurus, pendiam, dan kucel (karena masa kecil sangat bahagia, jadi aku punya jadwal untuk main di luar rumah dengan tetanggaku setiap harinya). Tapi aku bersyukur dengan apapun yang terjadi padaku hingga membuat aku menjadi seperti sekarang, setidaknya perubahan ini ke arah yang lebih baik dan semakin disenangi orang di sekitarku.

Kami memimpikan banyak hal bersama, bercerita apa saja yang menarik, dan berbagi mengenai rencana masa depan. Aku bahagia dia telah menemukan calon imamnya, sementara aku masih terus didoakan oleh dirinya dan ibunya :) Aku bukan lagi si pandai nan pendiam, tapi aku sangat cerewet dan tak cukup feminin. Sendi pun bukan lagi bocah pendiam yang terpengaruh lingkungan,tapi kami menjadi dewasa dengan berbagai pengalaman yang mengajarkan kami untuk bangkit, mandiri, dan tangguh. Aku senang meyebut bahwa kami adalah Srikandi :)

Rabu, 22 Juli 2015

Pada Satu Halaman

Pada halaman ini aku kisahkan kebesaran-Mu yang memberiku kesempatan hidup serta menyadari anugerah dan kuasa Mu.

Aku sampai pada 22 tahun, usia yang paling kunanti, bahkan sangat berharap besar pada usia ini, entah kenapa. Aku melakukan perjalanan malam ke luar kota bersama papa, hal itu menyenangkan. Hingga insiden itu pun terjadi. Suatu kejadian yang dalam sekejap dapat menghilangkan nyawaku. Bersyukur Tuhan melindungi kami meski saat itu aku mengalami shock dan ketakutan luar biasa.

Kisah kedua terjadi pada bulan berikutnya. Secara mendadak aku harus masuk ruang operasi tanpa persiapan apa-apa. Sungguh, hatiku menangis, tapi terus kutahan agar tak terlihat orang tuaku. Aku takut bahkan mengasihani diri sendiri. Semua perjuanganku yang selalu sendiri tiba-tiba mucul dan membuatku makin kacau. Aku merasa tak beruntung, bahkan saat itu aku masih harus sendiri mengurus ruangan dan beberapa persiapan lain hingga keluargaku datang. Menyedihkan. Aku tak berniat memberi tahu siapa pun,sampai akhirnya keesokan harinya aku hanya memberi tahu lima teman. Aku mulai membatasi diri, entahlah, aku memang sedang tak beres. Tapi aku sangat bersyukur, semuanya lancar dan satu peyakitku teratasi.

Kesempatan selajutnya adalah menjaga titipan Tuhan dan kembali mengenali diri sendiri. Di situasi seperti ini cukup menyulitkan, banyak yang membuatku tak nyaman tapi mereka belum sadar bahwa aku sedang menghindar. Bukan salah mereka, bukan salah siapa, diriku saja yang sedang berduka.