Selasa, 28 Juli 2015

Srikandi Dwi Putri

Kami berdua memakai DWI PUTRI sebagai nama panjang. Bukan melalui kesepakatan atau perjanjian sejak lahir, sebab kami lahir di kota yang berbeda dan keluarga yang tak pernah saling mengenal. Nama lengkapnya Sendi Dwi Putri, dia pindah ke SD ku sejak kelas 3, sejak itulah dia menetap di Padang hingga saat ini. Sejak awal kedatangannya kami mulai dekat dan membentuk sebuah genk bernama "MARS". Mars terdiri dari empat bocah, yaitu Mita, Iga, aku, dan Sendi. Sayangya Iga terlebih dahulu dipanggil Allah karena sakit polio yang dideritanya. Semoga sahabat kami berada dalam lindungan Allah..

Semenjak lulus SD itulah kami lost contact dan beberapa waktu lalu aku mencarinya melalui media sosial. Hari ini, setelah sepuluh tahun berlalu akhirnya kami bertemu. Tanggapan pertamanya serta ibunya adalah aku sudah berubah. Ya, aku memang berubah, itulah yang papa katakan padaku. Dulu aku memang tinggi, kurus, pendiam, dan kucel (karena masa kecil sangat bahagia, jadi aku punya jadwal untuk main di luar rumah dengan tetanggaku setiap harinya). Tapi aku bersyukur dengan apapun yang terjadi padaku hingga membuat aku menjadi seperti sekarang, setidaknya perubahan ini ke arah yang lebih baik dan semakin disenangi orang di sekitarku.

Kami memimpikan banyak hal bersama, bercerita apa saja yang menarik, dan berbagi mengenai rencana masa depan. Aku bahagia dia telah menemukan calon imamnya, sementara aku masih terus didoakan oleh dirinya dan ibunya :) Aku bukan lagi si pandai nan pendiam, tapi aku sangat cerewet dan tak cukup feminin. Sendi pun bukan lagi bocah pendiam yang terpengaruh lingkungan,tapi kami menjadi dewasa dengan berbagai pengalaman yang mengajarkan kami untuk bangkit, mandiri, dan tangguh. Aku senang meyebut bahwa kami adalah Srikandi :)

Rabu, 22 Juli 2015

Pada Satu Halaman

Pada halaman ini aku kisahkan kebesaran-Mu yang memberiku kesempatan hidup serta menyadari anugerah dan kuasa Mu.

Aku sampai pada 22 tahun, usia yang paling kunanti, bahkan sangat berharap besar pada usia ini, entah kenapa. Aku melakukan perjalanan malam ke luar kota bersama papa, hal itu menyenangkan. Hingga insiden itu pun terjadi. Suatu kejadian yang dalam sekejap dapat menghilangkan nyawaku. Bersyukur Tuhan melindungi kami meski saat itu aku mengalami shock dan ketakutan luar biasa.

Kisah kedua terjadi pada bulan berikutnya. Secara mendadak aku harus masuk ruang operasi tanpa persiapan apa-apa. Sungguh, hatiku menangis, tapi terus kutahan agar tak terlihat orang tuaku. Aku takut bahkan mengasihani diri sendiri. Semua perjuanganku yang selalu sendiri tiba-tiba mucul dan membuatku makin kacau. Aku merasa tak beruntung, bahkan saat itu aku masih harus sendiri mengurus ruangan dan beberapa persiapan lain hingga keluargaku datang. Menyedihkan. Aku tak berniat memberi tahu siapa pun,sampai akhirnya keesokan harinya aku hanya memberi tahu lima teman. Aku mulai membatasi diri, entahlah, aku memang sedang tak beres. Tapi aku sangat bersyukur, semuanya lancar dan satu peyakitku teratasi.

Kesempatan selajutnya adalah menjaga titipan Tuhan dan kembali mengenali diri sendiri. Di situasi seperti ini cukup menyulitkan, banyak yang membuatku tak nyaman tapi mereka belum sadar bahwa aku sedang menghindar. Bukan salah mereka, bukan salah siapa, diriku saja yang sedang berduka.