Selasa, 08 September 2015

8 September

Setahun yang lalu, di tanggal yang sama meski beda hari, sekitar waktu aku menuliskan cerita ini, aku mendapat kabar yang tak terduga. Seorang yang aku kagumi, banggakan, dan hargai telah tiada begitu saja.

Aku tahu, beberapa waktu sebelumnya aku sempat bermimpi 2 gigiku copot, tapi aku benar-benar tak menduga bahwa itu pertanda untuk beliau. Kaget dan tentu kebingungan mendengar berita itu. Aku datang setelah melewati beberapa jam perjalanan ke rumah beliau. Aku melihat beliau. Aku harus percaya dan menerima keadaan bahwa yang kulihat hanya jasad.

Malam itu aku sendiri tak mampu membaca Yaasin dengan jelas sebab air mata dan isak tangis begitu kentara. Aku tak bisa berpikir. Otak dan hatiku hanya ada beliau.  Saat yang paling menggetarkan adalah kesempatan terakhir untuk dapat menciumnya dan itu menjadi puncak segala sedih. Aku merasa tubuh itu terlalu dingin hingga begitu membekas sampai sekarang. Selepas itu aku gemetaran hebat sambil terisak. Tapi aku merelakan beliau dimandikan dan proses-proses berikutnya.

21 tahun beliau mengabdikan hidupnya untuk pendidikan dan sejak awal merintis karir beliau ditempatkan di Pesisir Selatan, bahkan sampai akhir hayatnya beliau tetap mendedikasikan dirinya untuk pendidikan, khususnya daerah Pesisir Selatan.

Beliau adalah ayah kehidupan bagiku. Beliau menanamkan nilai kejujuran pentingnya pendidikan. Banyak tauladan yang beliau wariskan. Meski aku masih berpikir aku masih dan selalu membutuhkannya. Aku percaya Tuhan mengambil beliau tepat waktu sebab Tuhan pasti Tahu bahwa yang beliau titipkan sudah cukup untuk kami (yang ditinggalkan) melanjutkan hidup. Aku juga yakin bahwa beliau pergi dengan tersenyum sebab beliau merasa kami pasti sudah mampu menjalani hidup tanpa beliau. Kalau ada yang menganggap bahwa aku adalah orang yang baik, maka aku katakan bahwa aku belajar tentang kebaikan dan ketulusan dari beliau. Sungguh beliau beribu kali lipat lebih baik dari siapa pun.

Senin, 07 September 2015

7 September

Hari ini setahun lalu, harusnya aku yang keluar menjemput oleh-oleh beliau (sesuai permintaan beliau). Beberapa hari itu aku memang banyak menghabiskan waktu di kamar. Tepat pada siang itu aku ketiduran dan tak tahu bahwa beliau memintaku untuk menjemput oleh-olehnya di depan komplek. Aku tak pernah tahu hal itu sampai mama -yang menerima pesan itu lewat telepon- menyampaikan hal itu sore harinya.

Markisa hari itu adalah markisa termanis yang pernah kumakan. Oya, ternyata adikku yang menggantikanku menemui beliau saat aku tertidur siang itu. Saat itu aku sedang ada masalah yang bagiku cukup besar. Aku berniat akan menceritakannya lewat telepon, seperti biasanya. Aku tak berfokus pada permintaan beliau, sebab kupikir siapa saja yang mengambil oleh-oleh itu tak kan ada masalah.