Minggu, 30 Agustus 2015

Anti Kucel

Traveler/explorer perempuan ga perlu anti dandan, apalagi canggung pakai make up. Kalau saya, memang nalurinya suka dandan, jiwanya doyan melancong kemana-mana. Waktu travelling ga bakal takut sama yang namanya matahari, tapi habis itu ingat buat perawatan lagi. Cantik itu kan sehat dan terawat. Jangan lupa inner-beauty ditonjolkan lewat senyuman manis yang menandakan ketenangan hati. Itulah keelokan kaum hawa. Kalau saya sih lebih senang diibaratkan Srikandi. Sebab tokoh tersebut memiliki kepribadian ganda, maksudnya perempuan yang tangguh bak laki-laki. Tapi tetap ingat kodrat, Srikandi pun butuh Arjuna :)

Perawatan ga perlu yang mahal, intinya sih yang cocok dan nyaman. Emang sih harga cenderung meyesuaikan kualitas, tapi jangan salah, saya juga menemukan produk yang enteng di kantong tapi manfaatnya emang berasa. Tapi kalau emang mau hemat dan sehat ya back to nature aja. Hal paling penting ya air putih yang cukup. Manfaat air putih mah buanyak banget, tinggal searching aja. Selain itu ya ditambah buah segar supaya vitamin juga tetap terjaga. Saya sih orangnya simple, cukup sediain pisang aja di rumah, bisa skalian menjaga berat badan.

Manfaatin apa yang ada pasti lebih berguna. Biasanya sehabis bikinin kopi buat papa, saya selalu nungguin ampasnya. Oke lah buat luluran telapak tangan dan kaki, kalau ampasnya lumayan banyak ya bisa lulurin badan juga. Hobi ngeteh juga ternyata bisa dimanfaatin loh. Ampas seduhan teh itu bisa dijadiin masker wajah. Sesekali boleh lah pakai peeling atau nyalon biar lebih bersih.

Intinya mulai dari diri sendiri. Ribet? Emang! Mau yang instan juga ada, tapi saya lebih milih pakai usaha sendiri dan jelas sumbernya. Lagian memanjakan diri sendiri kan penting. Tergantung niat si empunya badan :) Jangan sampai traveler/explorer kucel, hehee. Bukan hanya tempat tujuan yang nyaman dan menarik, pelancongnya pun sebaiknya mempesona  :)

Selasa, 25 Agustus 2015

Diantara glitter

Aku tulis ini disela mengeringkan kutek di tangan kananku. Pagi ini sepertinya aku membaca banyak kabar mengenai perasaan. Pasangan yang (pernah) saling mencinta akhirnya menikah dengan orang berbeda dalam waktu yang tak jauh berselang. Hal menariknya adalah mereka masih harmonis sebagai saudara, meski dalam komunikasi yang puitis mereka masih romantis. Hmm romantis..

Ada juga masih sibuk memberi tanda entah pada siapa atau sekedar mempublikasikan bahwa ia sedang mencari pasangan. Kenapa mereka tak pernah bisa menjadi lelaki, maksudku bersikap seperti pria, bukan lagi bocah lelaki. Bermain kias kadang memang misterius, tapi itulah yang kusuka. Membuat orang berpikir dua kali atau bahkan lebih untuk tahu siapa yang sedang dimaksud. Malah kadang kita menggiring kisah seakan-akan untuk seseorang yang diketahui pembaca, padahal itu semacam guyonan yang menjerumuskan. Pembaca, memang orang yang tak bisa ditebak, kadang mereka polos tergiring situasi penulis, tapi mereka juga bisa menjatuhkan si penulis.

Aku teringat pada kisahku, bahkan opini yang kubikin ambigu atau menggiring kawan-kawanku berpersepsi. Aku merasa benar-benar geminian yang berkepribadian ganda. Entah apa aku. Bisa bersikap lelaki juga perempuan. Aku manja tapi tangguh. Masih banyak hal membuatku merasa sebagai gemini sejati. Masalahnya adalah kisah asmara yang tak terlalu baik. Kukira kepribadianku menarik, tapi tak cukup membuat kaum adam terjerat dan bertahan. Aku mulai mengenang satu kisah. Kisah manis yang tragis.

Aku tertarik padamu meski kau terlambat tahu
Aku pernah menantikanmu untuk berani menatapku
Tapi kau semakin menghindari mataku
Ya, kau pemalu!
Pada suatu hari kita pernah bersama di atas kuda besimu
Ah aku lupa sebabnya, maksudku aku ingin mengulangi hari itu
Itu pertama dan satu-satunya, setelah itu hidup kita mulai diteror dan kita sama-sama tak nyaman dengan itu
Di waktu berikutnya kita pernah pergi bersama, ya bersama-sama dengan yang lain untuk melaksanakan tugas
Masih dengan perilaku yang sama, kau malu-malu dan aku berusaha kalem
Kita terpisah,tak tahu bahkan tak mau tahu kabar masing-masing.
Maaf, maksudku mungkin kau tak berniat mencari tahu kabarku
Aku? Masih sama, menyimpan rasa untukku sendiri
Tapi semua berbatas waktu dan rasa itu menguap sewaktu aku tahu bahwa aku kecolongan
Kau sudah punya gadis!
Kita tak pernah berjumpa apalagi bertegur sapa
Pagi ini, aku mengingatmu sembari menambahkan glitter di atas kutek jari-jariku

Senin, 24 Agustus 2015

Miris

Mama bilang sekarang krisis moneter kedua. Imbasnya sudah mulai terasa. Papa mulai sensitif mengatur hutang piutang yang membuat cash of money sungguh menipis. Tentu sebagai seorang pencari kerja aku pun merasakan dampaknya. Sebagai tanggungan orang tua, aku harus membatasi hobiku untuk membuat kue, dengan alasan harga telur terlalu mahal untuk uji coba resep serta jajan mingguan pun mulai tak lancar. Sudahlah jajan dipotong lebih dari setengahnya, kini pun jadwalnya tak menentu.

Keadaan bertambah buruk karena ini akhir bulan, terlalu banyak jadwal kegiatan yang membutuhkan uang, tapi simpananku benar-benar habis. Aku harus putar otak mencari penghasilan dengan modal setipisnya. Aku mulai tertekan.

Hal yang lebih menekan lagi saat tak bisa lagi membantu keluarga yang membutuhkannya, sebab memang waktunya sedang tak tepat. Kebutuhan kami pun masih banyak, itu yang tidak mereka pahami. Kunci kebahagiaan adalah dengan bersyukur, meski pun cobaan berdatangan silih berganti. Kami diam bukan berarti tenang, kami cuma tak ingin memperburuk suasana hati dan pikiran, disanalah letak salah pahamnya kalian. Kalian tetap berpikir bahwa kami baik-baik saja. Kumohon mengertilah.

Anak mana yang tega melihat orang tuanya mulai tak tenang. Apalagi ditambah dengan masalah orang lain yang dilimpahkan ke kami. Sekali lagi, bukan kami tak mau membantu, tapi saat ini kami pun sedang tak stabil.

Ada apa dengan negeri ini? Kenapa semakin sulit hidup di sini? Oh pemimpin, apa yang harus kami lakukan? Kami bekerja tapi tak mencukupi. Penghasilan kami kah yang tak sesuai untuk bisa hidup di negeri ini? Alam yang kaya juga harus dibayar dengan uang yang tak sedikit. Hasil tanah kita pun terlalu sulit untuk dinikmati. Lama-lama bak ayam mati di atas padi. Miris.

Kamis, 13 Agustus 2015

Bahagia itu..

Tulisan pertama di Agustus 2015.

Aku masih dalam perenungan yang tak kunjung usai untuk memahami diriku sendiri. Banyak hal terjadi, banyak hal kupikirkan. Aku masih setia untuk menjadi positif dan percaya, aku tak ingin mengeluh. Bukan tak konsisten, tapi aku belum dapat mengambil keputusan, terlalu banyak pertimbangan, terlalu banyak yang harus dijaga, aku tak mungkin bersikap egois untuk hal semacam ini.

Awal dari masalah ini, aku coba lari, menghindari kenyataan agar aku tak hadapi semua sakit ini. Dalam pengasingan aku bertekad memulai kehidupan yang baru. Tak mudah, sebab aku tak bisa mengendalikan lingkungan yang sewaktu-waktu menarikku kembali pada lubang kelam itu. Aku lelah, benar-benar lelah untuk hidup dalam ketidaktenangan semacam itu. Kembali aku sibukkan diri dengan kegiatan yang entah, aku sendiri pun tak paham gunanya, hanya untuk membuatku keluar dan menghirup udara selain rumah.

Suatu hari aku sadar, aku sangat tidak memahami diriku saat itu, makanya aku tak bisa mengendalikan diri sendiri. Pikiranku liar, rasaku jengah, dan tindakanku konyol. Aku tahu harus meredam, tapi aku belum mengerti apa yang kubutuhkan saat itu, aku tak percaya pada pikiran dan perasaanku sendiri. Aku mulai mencari cara berdamai dengan dirisendiri.

Setidaknya aku mulai tenang,bernafas kembali. Entahkenapa, bertubi-tubi cobaan datang. Aku pikir aku sial, hingga mendatangkan kesialan bagi sekitarku. Aku kembali jenuh, aku berharap tak melakukan apapun agar tak menimbulkan masalah baru. Aku takut, hampir mengutuk diri sendiri yang tak habisnya menghadapi masalah. Terpikir olehku, kenapa aku masih hidup? Kenapa aku masih bertahan? Aku sadar ini urusan Tuhan, tangan Tuhan selalu bekerja.

Aku masih belum paham diriku. Tapi aku sudah damai, berusaha menjaga ketenangan ini tepatnya. Semua masalah ini membuatku tahu yang tersisih dan yang bertahan di sampingku. Aku tahu mereka yang perduli dan aku hargai. Setidaknya aku tahu cara untuk mengendalikan diriku saat ini. Aku berusaha menikmati setiap proses dan hasil dari hidup ini. Susah senang kini kunikmati. Aku tak eduli cobaan yang kuanggap kesialan itu masih tak mau beranjak, tapi aku tak mau kalah dengan itu. Aku nikmati sebagai bagian hidupku. Bersama mereka yang di sampingku, yang tak perduli aku diberikenikmatan atau cobaan, aku menikmati semua ini. Aku bisa tertawa bahagia dan lepas meski cobaan itu berdatangan. Aku bersyukur mereka tak penah mengeluh dan kami selalu punya cara untuk menyiasati cobaan itu. Apapun itu, asal dinikmati dan disyukuri, insya Allah akan mudah dilalui. Bagiku, bahagia itu soal rasa, kenyamanan. Kamu bahagia bila kamu tak mengeluh :)


Salam dari Pariaman:)