Tulisan pertama di Agustus 2015.
Aku masih dalam perenungan yang tak kunjung usai untuk memahami diriku sendiri. Banyak hal terjadi, banyak hal kupikirkan. Aku masih setia untuk menjadi positif dan percaya, aku tak ingin mengeluh. Bukan tak konsisten, tapi aku belum dapat mengambil keputusan, terlalu banyak pertimbangan, terlalu banyak yang harus dijaga, aku tak mungkin bersikap egois untuk hal semacam ini.
Awal dari masalah ini, aku coba lari, menghindari kenyataan agar aku tak hadapi semua sakit ini. Dalam pengasingan aku bertekad memulai kehidupan yang baru. Tak mudah, sebab aku tak bisa mengendalikan lingkungan yang sewaktu-waktu menarikku kembali pada lubang kelam itu. Aku lelah, benar-benar lelah untuk hidup dalam ketidaktenangan semacam itu. Kembali aku sibukkan diri dengan kegiatan yang entah, aku sendiri pun tak paham gunanya, hanya untuk membuatku keluar dan menghirup udara selain rumah.
Suatu hari aku sadar, aku sangat tidak memahami diriku saat itu, makanya aku tak bisa mengendalikan diri sendiri. Pikiranku liar, rasaku jengah, dan tindakanku konyol. Aku tahu harus meredam, tapi aku belum mengerti apa yang kubutuhkan saat itu, aku tak percaya pada pikiran dan perasaanku sendiri. Aku mulai mencari cara berdamai dengan dirisendiri.
Setidaknya aku mulai tenang,bernafas kembali. Entahkenapa, bertubi-tubi cobaan datang. Aku pikir aku sial, hingga mendatangkan kesialan bagi sekitarku. Aku kembali jenuh, aku berharap tak melakukan apapun agar tak menimbulkan masalah baru. Aku takut, hampir mengutuk diri sendiri yang tak habisnya menghadapi masalah. Terpikir olehku, kenapa aku masih hidup? Kenapa aku masih bertahan? Aku sadar ini urusan Tuhan, tangan Tuhan selalu bekerja.
Aku masih belum paham diriku. Tapi aku sudah damai, berusaha menjaga ketenangan ini tepatnya. Semua masalah ini membuatku tahu yang tersisih dan yang bertahan di sampingku. Aku tahu mereka yang perduli dan aku hargai. Setidaknya aku tahu cara untuk mengendalikan diriku saat ini. Aku berusaha menikmati setiap proses dan hasil dari hidup ini. Susah senang kini kunikmati. Aku tak eduli cobaan yang kuanggap kesialan itu masih tak mau beranjak, tapi aku tak mau kalah dengan itu. Aku nikmati sebagai bagian hidupku. Bersama mereka yang di sampingku, yang tak perduli aku diberikenikmatan atau cobaan, aku menikmati semua ini. Aku bisa tertawa bahagia dan lepas meski cobaan itu berdatangan. Aku bersyukur mereka tak penah mengeluh dan kami selalu punya cara untuk menyiasati cobaan itu. Apapun itu, asal dinikmati dan disyukuri, insya Allah akan mudah dilalui. Bagiku, bahagia itu soal rasa, kenyamanan. Kamu bahagia bila kamu tak mengeluh :)
Aku masih dalam perenungan yang tak kunjung usai untuk memahami diriku sendiri. Banyak hal terjadi, banyak hal kupikirkan. Aku masih setia untuk menjadi positif dan percaya, aku tak ingin mengeluh. Bukan tak konsisten, tapi aku belum dapat mengambil keputusan, terlalu banyak pertimbangan, terlalu banyak yang harus dijaga, aku tak mungkin bersikap egois untuk hal semacam ini.
Awal dari masalah ini, aku coba lari, menghindari kenyataan agar aku tak hadapi semua sakit ini. Dalam pengasingan aku bertekad memulai kehidupan yang baru. Tak mudah, sebab aku tak bisa mengendalikan lingkungan yang sewaktu-waktu menarikku kembali pada lubang kelam itu. Aku lelah, benar-benar lelah untuk hidup dalam ketidaktenangan semacam itu. Kembali aku sibukkan diri dengan kegiatan yang entah, aku sendiri pun tak paham gunanya, hanya untuk membuatku keluar dan menghirup udara selain rumah.
Suatu hari aku sadar, aku sangat tidak memahami diriku saat itu, makanya aku tak bisa mengendalikan diri sendiri. Pikiranku liar, rasaku jengah, dan tindakanku konyol. Aku tahu harus meredam, tapi aku belum mengerti apa yang kubutuhkan saat itu, aku tak percaya pada pikiran dan perasaanku sendiri. Aku mulai mencari cara berdamai dengan dirisendiri.
Setidaknya aku mulai tenang,bernafas kembali. Entahkenapa, bertubi-tubi cobaan datang. Aku pikir aku sial, hingga mendatangkan kesialan bagi sekitarku. Aku kembali jenuh, aku berharap tak melakukan apapun agar tak menimbulkan masalah baru. Aku takut, hampir mengutuk diri sendiri yang tak habisnya menghadapi masalah. Terpikir olehku, kenapa aku masih hidup? Kenapa aku masih bertahan? Aku sadar ini urusan Tuhan, tangan Tuhan selalu bekerja.
Aku masih belum paham diriku. Tapi aku sudah damai, berusaha menjaga ketenangan ini tepatnya. Semua masalah ini membuatku tahu yang tersisih dan yang bertahan di sampingku. Aku tahu mereka yang perduli dan aku hargai. Setidaknya aku tahu cara untuk mengendalikan diriku saat ini. Aku berusaha menikmati setiap proses dan hasil dari hidup ini. Susah senang kini kunikmati. Aku tak eduli cobaan yang kuanggap kesialan itu masih tak mau beranjak, tapi aku tak mau kalah dengan itu. Aku nikmati sebagai bagian hidupku. Bersama mereka yang di sampingku, yang tak perduli aku diberikenikmatan atau cobaan, aku menikmati semua ini. Aku bisa tertawa bahagia dan lepas meski cobaan itu berdatangan. Aku bersyukur mereka tak penah mengeluh dan kami selalu punya cara untuk menyiasati cobaan itu. Apapun itu, asal dinikmati dan disyukuri, insya Allah akan mudah dilalui. Bagiku, bahagia itu soal rasa, kenyamanan. Kamu bahagia bila kamu tak mengeluh :)
Salam dari Pariaman:)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar