Sebelumnya aku menceritakan tentang seseorang yang kukagumi yang kuanggap 'Superman'.
Sedikit kuceritakan awal kekagumanku pada sosok ini. Dia adalah seorang pria sebayaku yang memiliki postur tubuh proporsional dan sesuatu yang menarik di wajahnya. Jika ku jelaskan apa yang menarik di wajahnya, mungkin banyak orang yang langsung menebak siapa dia, jadi aku ingin tetap merahasiakan jati dirinya. Sosok pria ini awalnya biasa saja di mataku, layaknya teman-teman lainnya. Tapi suatu hari dimana aku sedang belajar di kelas yang sama dengannya, sang dosen yang cerdas menyebutkan suatu pertanyaan pada kami semua, sontak kami semua mulai memikirkan analisis dari pertanyaan itu. Saat berfikir, aku mulai menoleh-noleh untuk mencari inspirasi jawaban, seketika itu mataku menangkap sesosok pria yang tengah berfikir. Seperti ada kilauan yang hadir di sekelilingnya, aku pun terpesona!
Penilaianku adalah dia seorang pria yang cerdas dan aku suka itu. Semakin dalam aku menatapnya dan aku sadar aku telah mengaguminya. Dialah Superman-ku. Tapi mirisnya, kusadari bahwa ia tak pernah menatapku saat bicara denganku. Dia begitu dingin saat sesekali menatapku. Hal itu mengiris perasaanku. Kenapa harus berlaku begitu padaku, sedangkan tidak pada yang lain?? Apa salahnya diriku?
Suatu hari kuakhiri rasa kagumku pada Superman agar tak terlalu dalam dan menimbulkan masalah di kemudian hari. Saat itu munculah Spiderman yang entah kenapa beberapa hari belakangan memberi perhatian yang lebih dan bersikap aneh. Ku tak mau terlalu cepat menganggap ia menyukaiku, tapi tak bisa kupungkiri ada indikasi seperti itu.
Hatiku langsung berontak tak terima. Jelas-jelas yang kumau Superman, bukannya Spiderman. Seandainya Superman bersikap seperti Spiderman, maka tak ada alasan untuk menolaknya. Tapi Superman yang bersikap sedingin itu tidak akan mungkin berubah sehangat Spiderman. Untuk itu, kuputuskan kembali ke prinsip awal, aku tak mau pacaran hingga usia 22 tahun.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar