Jumat, 18 Mei 2012

Dalam Diamku

Ku tersadar suatu hal, tentang luka masa lalu yang masih basah. Setelah kurenungi, kurasa ini karena keluguan dan ketidaktahuanku tentang perasaan dan cara menyalurkannya. Ku terlalu tunduk pada kata-katanya sehingga ku tak sadar arah hidupku. Kakiku kulangkahkan mengikutinya, hidupku kuarahkan padanya.

Bodohnya, meski aku sadar kau salah, tapi aku selalu luluh dan meredam amarahku. Hingga suatu saat rasa sakit ini tak tertahankan dan kumuntahkan dengan caraku. Diamku bukan karena ku bisu, tapi aku tak mampu berkata-kata dengan pedih yang kutahan.

Seharusnya kau sadar, merasa bersalah, dan menyesal. Tapi yang terjadi adalah dengan entengnya kau menjalani hidup tanpa memperdulikan iblis yang bersemayam di hatimu. Goyahnya aku sehingga belum mampu berpaling.


Jika hilang iman dan warasku, ku bunuh kau!!!
Kukirimi kau pisau belati
Kumohon dengan setulus hati
Agar kau menusuk jantungmu sendiri
Karena aku tak mau ternodai

Sudah kukirimi pisau belati
Tapi kau tak jua bergeming
Lalu kukirim keris beracun
Berharap kau tahu sakit hati ini
Supaya aku cepat berpaling
Agar dendam tak menahun

Tidak ada komentar: