hahahahahaahahahahahhahahaahhaah ^_^
Biar rilex and enjoy, sekalian mari kita buka kenangan masa lalu saat kegilaan menghampiri diri kita..
Sebagai seorang anak yang "gila", aku senang mencoba hal baru. Tentu saja keingintahuan itu harus dibatasi. Tapi hari ini kuceritakan secuil memory yang kuingat disela-sela masa liburku.
- Kejadian pertama adalah saat aku berada di kelas VIII, tepatnya kelas VIII.F. Partnerku adalah Didi. Di provinsiku ada peraturan yang mewajibkan siswa SD hingga SMA menggunakan pakaian muslim ke sekolah. Nah, Didi ini aslinya ga berjilbab, jadi ia menggunakan jilbab hanya untuk urusan sekolah. Pada suatu hari di tengah jam pelajaran, jilbab Didi mulai berantakan dan ia risih karena itu. Melihatnya gelisah mengurusi jilbabnya yang makin berantakan, aku menyarankannya untuk keluar dan memperbaiki jilbabnya. Saranku diterima dengan syarat aku menemaninya ke toilet untuk membantunya memperbaiki jilbabnya. Berdasarkan pengalamanku yang setiap pagi memakai jilbab dengan waktu singkat, maka kusanggupi permintaannya. Dengan sedikit strategi agar bisa keluar kelas, akhirnya kami pun menuju toilet. Sesampainya di sana, Didi langsung melepas jilbabnya dan membetulkan alasnya. Tapi diluar dugaanku, ternyata jilbabnya cukup "bandel" sehingga waktu bergulir sekian lama namun jilbab itu tak kunjung terpasang dengan rapi. Dengan gelisah ku katakan padanya agar membiarkan saja jilbabnya yang tak rapi dan kembali ke kelas, sebab sudah terlalu lama kami keluar kelas. Namun ia beralasan sudah kepalang tanggung dan sebentar lagi jilbabnya pasti rapi. Akhirnya selesai juga ia merapikan jilbabnya, tapi sayang kami sudah berada terlalu lama di toilet dan jam pelajaran segera berakhir. Alhasil kami memutuskan untuk tetap menunggu di toilet hingga jam pelajaran usai. Bel pun berbunyi dan dengan lega kami kembali ke kelas yang disambut histeris teman-teman dekatku yang kegelian mendengar cerita kami.
- Kenangan kedua adalah saat aku duduk di kelas X (X.3). Karena sekolahku dalam proses pembangunan, sehingga siswa kelas X harus masuk siang. Hari itu hari Selasa dan jam pelajaran pertama adalah English dengan Mam Rahmawati. Entah kenapa pada hari itu aku terlambat datang. Saat menuruni angkutan kota kulihat di sekitar sekolah sudah sepi, yang menandakan aku sangat terlambat. Aku khawatir karena sudah pasti aku dihukum berbaris untuk mengangkat pasir hingga ke lantai 3. Hampir saja kuputuskan untuk kembali pulang, tapi ternyata ada angkot yang berhenti di dekatku dan turunlah Kaka, teman sebangku ku. Aku lega akhirnya aku punya teman terlambat yang juga merupakan teman dekatku. Dengan sebelah tangan memegang HPnya dan sebelah lagi memegang lenganku, dia mengajakku ke salah satu restoran fastfood yang sering kami kunjungi. Katanya teman-teman sekelasku yang perempuan ada di sana. Dengan kaget aku bertanya kenapa mereka semua di sana. Ia bilang mereka ingin membolos di jam English dan akan kembali setelah English berakhir. Agar selamat dari hukuman, kuterima tawarannya, toh kalau pun ketahuan aku ga sendirian kan. Sesampainya di sana ku lihat mereka menikmati ice cream. Aku dan Kaka juga langsung memesan makanan. Bagai tak punya perasaan bersalah, kami juga berfoto dengan riangnya. Setelah dirasa cukup, akhirnya kami kembali ke sekolah karena kami sudah memprediksi waktu jam pelajaran habis. Aku yang polos dan tak tahu apa-apa hanya mengikuti mereka mengendap-endap masuk ke sekolah dengan menutupi tas agar tak menimbulkan kecurigaan. Akhirnya sampailah kami di pintu kelas. Mendengar suara ribut dari kelas, kami pun yakin Mam Rahma sudah keluar dan jam pelajaran telah berakhir. Kami masuk dengan santainya. Tiba-tiba bel pergantian pelajaran berbunyi, sontak kami kaget. Apalagi ku temui masih ada Mam Rahma di kelas. Dengan wajah tegang kami tetap berjalan ke kursi masing-masing dan menghiraukan Mam yang bertanya, "dari mana saja kalian?". Ku dengar dari teman-temanku bahwa kelas begitu sepi, yang ada hanya siswa laki-laki dan beberapa perempuan. Maafkan ulah kami Mam Rahma, I love you so much...
- Sekolah ku sering mengadakan pertandingan basket antar SMA se kota. Kami diberi tugas membuat laporan selama pertandingan hingga acara itu selesai. Itulah tugas pengganti, karena selama kegiatan itu berlangsung, kami tidak dapat melaksanakan pelajaran olahraga. Dengan senang hati kusambut tugas itu, karena aku punya minat yang besar di bidang menulis. Yang ada di pikiranku saat itu adalah aku akan berlagak seperti seorang jurnalis dan mewawancarai para pemain dari berbagai sekolah. Kelompok kerja sudah dibagi dan di hari pertandingan aku mulai beraksi seperti jurnalis dengan mengumpulkan informasi tentang para pemain, teknik yang digunakan, hingga posisi para pemain. Hahahhaha,, kepo juga ternyata... Laporan itu telah kuselesaikan, tapi karena ada suatu masalah akhirnya aku terlambat mengumpulkannya. Akhirnya salah satu temanku berinisiatif untuk memasukkan laporan itu ke dalam perpustakaan bagaimana pun caranya, karena memang kami diperintahkan meletakkan laporan itu di perpus. Di karenakan pada hari itu sekolah mengadakan sebuah acara, perpus pun tutup. Kami mengelilingi perpus mencari celah untuk bisa memasukkan laporan itu. Tak ada celah. Satu-satunya cara adalah memasukkan laporan itu dari ventilasi yang cukup tinggi. Kebetulan temanku ini cukup tinggi sehingga aku menaruh harapan padanya. Kami mencari kursi untuk mempermudahnya memanjat, tapi ternyata belum sampai juga. Dengan stres beercampur emosi dia lalu melompat-lompat di atas kursi yang diikuti teriakan histerisku. Dengan semangat dan teriakannya akhirnya ia melempar laporan itu ke dalam. huft,, syukurlah laporannya sudah masuk. Sayangnya, saat beberapa hari kemudian mengecek ke dalam perpus, ternyata laporan kami tidak ketemu. Tapi tetap saja kami laporkan pada Guru bahwa laporannya sudah kami masukkan ke dalam perpus, karena memang laporannya telah kami masukkan walaupun dengan cara yang tak lazim...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar