Selasa, 14 April 2015

Pa, kadang aku ingin mendengar nasihatmu tentang pria pada gadismu ini. Aku juga ingin bercerita ttg pria yg kudamba atau tentang orang-orang yg mengecewakanku. Pa, perkataanmu selalu kuingat tanpa kau sadari. Pa, kali ini rasanya sungguh perih. Ya, aku pernah merasakan yg lebih menyakitkan. Tapi aku kecewa, pa. Mungkin engkau lebih kecewa karena aku salah memilih. Pa, asal engkau tahu, begitu besar harapanku padanya agar dapat kau terima, agar kau ikhlaskan dia menjadi imamku kelak, selain engkau. Pa, ada banyak hal yg tak bisa kukendalikan, salah satunya perasaan. Aku begitu begitu yakin bersandar padanya, tapi ku tak sadar bahwa sandaranku rapuh. Tak kuat menopangku! Pa, aku lelah, begitu lelah, aku ingin istirahat. Tapi banyak hal harus kuselesaikan kini, sendiri. Anak manjamu harus bergantung pada diri sendiri. Pa, aku ingin mendekapmu dan menumpahkan semua air mata yg sll ku tahan. Apa yg papa lakukan pada mereka yg melukaiku? Kalau begini aku ingin selalu jadi anak gadismu. Cukup engkau pria yg kukenal, cukup engkau yg menghujani kasih sayang, cukup engkau yg melindungiku. Kini rambutmu memutih, tulangmu kian rapuh, dan engkau menua! Aku pun beranjak dewasa dan engkau mulai memikirkan pernikahanku. Pa, aku ingin tetap jadi gadis cilikmu, aku belum menemukan lelakiku. Cukup lah pa, aku tau engkau akan murka kalau mengetahui segala tentangku. Biar kusimpan segala cerita dari bibir, agar mata dan hati mampu menyampaikan lebih.

Tidak ada komentar: