Rasa yang pernah kualami mungkin pantas disebut cinta. Terkirim pada seseorang yang "memaksa" aku selalu menujunya. Semua tentang dia. Aku menjadi pribadi yang berbeda, melakukan berbagai hal yang tak pernah menjadi identitasku. Sosok itu terlalu melekat dalam memori.
Waktu, membuat semua semakin panjang. Seakan tak punya titik untuk menyudahi. Ada bimbang yang dikulum waktu dan menetes menjadi dilema. Galau. Aku sampai pada puncaknya. Hingga semua perlahan terungkap dan aku divonis untuk meninggalkan rasa yang kupelihara, tentu saja juga meninggalkannya. Hal yang membuatku gila dan frustasi.
Jarak semakin memperparah situasi. Tak mampu menyampaikan rasa lewat mata bagai berada di penjara. Menyiksa. Di beranda jiwa masih ada kursi tamu yang kurawat, belum kubiarkan siapa pun menyentuhnya. Tapi aku harus terima kenyataan, bahwa dia tak berniat mendudukinya lagi.
Kehidupan memberi banyak pengalaman. Bertemu dengan orang-orang baru yang mampu membuatku menemukan jalan keluar dari belantara jiwa. Meski dia tak pernah izinkan aku untuk menemukan yang lain, tapi kali ini aku menentangnya.
Kini aku merasa hidup. Aku mulai memupuk rasa lagi. Meski aku tau tak mudah untuk membuatnya menujuku, tapi pria ini sungguh istimewa. Aku harus membatasi pertumbuhan rasa agar tak membuahkan kecewa. Aku tak berharap ini akan berhasil, tapi aku tak ingin gagal. Sungguh!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar