Antara gunung dan pantai, aku tak pernah tahu terdapat langit rasa. Mungkin di gunung dia lebih sering memandangi laut dari pada langit. Aku, dari pantai juga sering memandang gunung. Dia membuatku jatuh hati pada caranya, rasanya, dan segalanya terhadapku. Katanya aku menarik, kapanpun, di manapun, dan dalam situasi apapun, aku mampu menyita pikirannya.
Di bawah langit rasa ini aku nyaman. Nyaman diperlakukan begini, nyaman mendengar ocehannya, dan nyaman menerima semua lagu yang ia nyayikan tiap malam.Dia selalu berhasil mematahkan egoku hingga pada akhirnya aku selalu bersandar dengan segalaku pada ketulusannya. Mungkin gunung mengajarinya cara menyelam, hingga dia selalu bisa membuatku membuka mulut dalam bungkam yang ku tahan.
Gunung memang angkuh dengan kokohnya, maka ia yakin untuk meminta hatiku. Hati yang selalu ku jaga dan tak sembarang orang bisa masuk. Hati yang semakin lama semakin keras hingga mati rasa. Seperti halnya gunung, gunung bukanlah objek untuk ditaklukkan para pendaki, dan hati juga bukanlah hal yang ditaklukkan para pencinta. Tapi Tuhan lah penakluk dari segalanya, pemilik semesta.
Di bawah langit rasa, di antara gunung dan pantai, aku kira terdapat daratan yang bisa dilalui bersama. Daratan tempat kita menyusuri setiap panggilan waktu untuk sampai pada tujuan yang hanya kita rasa tanpa diucap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar