Rabu, 06 Agustus 2014

Kita di Nagarimu

Kemenangan di tangan kita jika bertahan sampai akhir! Itulah kalimat yang selalu dibisikkan hatiku tiap kali kami, tim KKN Nagari Sontang Cubadak 2014, berdiskusi mengenai persiapan dan teknis selama periode KKN. Butuh keyakinan dan keberanian untuk bertahan di tempat yang namanya saja bagi sebagian besar baru kami dengar.

Ratusan kilometer yang akan memisahkan dengan keluarga, kebiasaan, teman lama, dan lingkungan tempat hidup sehari-hari. Kami, tiga puluh dua orang mahasiswa lintas jurusan Universitas Andalas, akan mengabdi ke Nagari Sontang Cubadak, Pasaman. Secara pribadi, ini lebih dari sekedar pengabdian, tapi juga mengenai bertahan hidup dan bersosialisasi.

Segala perlengkapan dan keperluan telah disiapkan sebagai bekal hidup selama sebulan, mungkin semua itu juga masih ditambah dengan pikiran dan perasaan yang beraneka ragam. Berpegang pada keyakinan, keberanian, dan rasa kekeluargaan sebagai modal, berangkatlah kami menuju Nagari Sontang Cubadak.

Sontang Cubadak adalah nagari persiapan yang memiliki empat jorong, yaitu Jorong Rambah, Jorong Binubu, Jorong Sontang, dan Jorong Murni Sontang. Tempat tinggal kami terletak di Jorong Rambah, tepatnya Kampung Bersama Indah. Tim pria menghuni rumah milik Bapak Parlautan Hasibuan a.k.a. Pak Laut dan tim perempuan mendiami rumah Pak Arsyad Siregar a.k.a. Pak Regar. Kesan pertama yag muncul adalah rasa segan dan canggung hingga akhirnya di hari ketiga suasana mulai mencair dan kami dapat melebur dengan kedua keluarga tersebut.

Hari-hari selanjutnya suasana semakin hangat layaknya keluarga sendiri. Pengabdian yang kami lakukan berjalan lancar dan hal tersebut begitu menyenangkan saat adi-adik SD mengunjungi kediaman kami untuk belajar dan lebih akrab dengan kami, bahkan tak cuma warga Bersama Indah yang mengenal kami, tapi secara umum kami sudah dikenal di nagari tersebut.

Untuk urusan konsumsi, tim wanita punya cerita tersendiri. Ke pasar adalah rutinitas yang harus dijalani, sebab kalau tidak ke pasar, kami tak punya bahan untuk dimasak. Maklum saja, kami berjumlah tiga puluh dua orang, sedangkan konsumsi harus disiapkan untuk sahur dan berbuka, berarti minimal tersedia enam puluh empat porsi untuk keseharian kami, ditambah lagi ta'jilan tiap berbuka.

Dalam penugasan, kami dibagi menjadi empat kelompok sesuai jorong yang terdapat di nagari tersebut, sehingga pengalaman yang kami dapat juga beragam, tapi satu hal yang sama, yaitu antusias warga dan objek kegiatan kami yang selalu menjadi penyemangat setiap harinya. Hal itu juga menjadi salah satu faktor yang membuat kami betah dan merasa nyaman tinggal di sana.

Kami saling belajar satu sama lain, saya tahu bagaimana membuat susu jagung, teh dari rambut jagung, nata de coco, bahkan membuat pupuk dan belajar sulap. Dari masyarakat pun banyak hal bermanfaat yang kami dapat, seperti tradisi baru, menu makanan baru, apalagi di pasar banyak hal menarik yang kami jumpai. Saya terkesan dengan semua hal baru yang ditawarkan nagari tersebut.

Semua pikiran dan beban rasa yang di bawa serasa hilang saat melihat mata berbinar para siswa SD dan masyarakat yang kami kunjungi. Mereka tak segan bercengkerama dan bersenda gurau dengan kami sehingga kami pun tak canggung untuk berkomunikasi, meskipun dari segi budaya, bahasa keseharian penduduk Sontang Cubadak bukanlah bahasa minang atau pun bahasa indonesia.

Kami terharu saat harus meninggalkan nagari tersebut dan kembali ke daerah kami masing-masing. Haru begitu menguasai keadaan saat perpisahan dengan warga, sahabat, dan keluar di sana. Usai Shalat Jumat, rumah kami telah dipenuhi oleh warga yang ikut tterharu kala berjabat tangan sebelum kami berangkat. Kenang-kenangan dan nomor ponsel telah disebar, saatnya kami pulang. Sekali lagi saya terharu saat warga dan adik-adik di sana hampir setiap hari menelpon dan bertanya kabar serta menanyakan kapan saya mengunjungi mereka. Pernyataan yang membuat hati bergetar saat mereka berujar bahwa mereka rindu dan sepi tanpa anak KKN di sana.

Hidup memang perjuangan dan pengorbanan, tapi hidup juga memberi banyak pelajaran dan pengalaman. Saya bersyukur ditempatkan di Nagari Sontang Cubadak, sebab saya telah menginjakkan kaki bahkan tinggal di sana selama sebulan sedangkan banyak orang yang belum pernah berada di sana, termasuk orang tua saya. Terima kasih untuk keindahan alam yang menakjubkan, untuk keluarga baru yang begitu hangat, dan untuk pengalaman sekali seumur hidup yang diberikan. Terima kasih Universitas Andalas, terima kasih Sontang Cubadak.

Sedikit curahat hati dari sekian banyak kenangan yang dititipkan Nagari Sontang Cubadak
Salam,

Rizki Dwi Putri (Kiki)

Tidak ada komentar: