Perbincangan dengan seorang pekerja seni itu membuka wawasan, termasuk untuk hal berikut ini. Mohon maaf sebelumnya atas identitas sumber yang tidak saya publikasikan, karena saya belum minta izin untuk mengekspos identitas beliau. Tapi saya pastikan beliau bukan orang sembarangan dalam seni, khususnya teater, beliau dapat mempertanggungjawabkan pendapatnya. Berikut kutipan pesan yang saya terima dari beliau :
"Sedapat mungkin jangan ikut2 lagi yang namanya "operet" ya. Kalo perlu kampanyekan bahwa kegiatan tersebut adalah pombodohan. Kebetulan
minggu ini bang dah mulai workshop ke sekolah2 SMA di kota padang
dengan grup teater abang memerangi itu. "Operet" itu kata yang sakral,
operet adalah bagian terkecil dari opera. Jika opera bisa pentas sampai 4
jam, operet biasanya maksimal 2 jam. perlu panggung yang besar,
pemusiknya adalah orkestra, ada adegan tari dan drama di sana yang
indah, langsung, tidak dibuat2, apalagi rekaman lip sing. Sementara itu
hampir di setiap SMA Kota Padang hari ini setiap perpisahan melakukan
sebuah pentas yang mereka sebut pula operet. Istilah itu sudah salah
kaprah dik, yang betul untuk pentas mereka lakukan itu adalah KABARET. Nah, yang lebih parah, naskah yang mereka sebut operet tadi cuma berisi
guyonan yang tidak ada amanat, guyonan konyol. Itu yang bang sebut
pembodohan jadinya. belum lagi kalo kita lihat dapur di balik itu semua,
biasanya pelatih2 operet itu menjadikannya proyek. Mereka cuma modal
rekaman kaset yang di rekam di radio. Kalo dapat Kiki bantu, mulai
sekarang kampanyekan menolak operet di lakukan di sekolah-sekolah,
apalagi atas dasar proyek. Jika dilakukan juga ganti kembali ke nama
aslinya yaitu kabaret, supaya generasi kita tidak malu dengan orang
luar. Dan jika dilakukan lagi, bukan atas proyek!"
Intinya, dalam melakukan sesuatu, usahakan mengetahui dan mencari tau apa sebenarnya yang akan dilakukan. Terlepas dari kebebasan yang dimiliki setiap orang, pada dasarnya segala hal telah diatur dan jalanilah sesuai jalurnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar